Ragam Keindahan Sesajen di Tanah Mataram

Bekerja sama dengan Komunitas Pemandu Wisata Muda (KMK), FKY 2022 menghadirkan Tur Wicara Sajen sebagai salah satu agenda program. Selain belajar tentang ragam sajen, dalam tur ini peserta juga dijelaskan tentang fungsi sajen. Hingga hari ini, masih banyak orang yang menganggap bahwa sesajen merupakan hal negatif yang dapat mengundang makhluk gaib. 


Padahal, sesajen sejatinya merupakan media untuk kita (manusia) berkomunikasi dengan mereka (makhluk di dunia lain). Tidak hanya itu, sesajen juga bisa menjadi media berkomunikasi dengan Sang Pencipta. Dulu, sesajen sering kali digunakan saat perang berlangsung dengan tujuan sebagai media penyampaian doa-doa, penambah kebugaran badan, serta sebagai alternatif obat. 


Tur Wicara Sajen ini dilaksanakan pada Jumat, 16 September 2022 sejak pukul 8 pagi dan diikuti oleh 25 peserta. Rute tur dimulai dari Pasar Beringharjo, lalu ke alun-alun utara (altar), dilanjutkan ke Pasar Ngasem, dan terakhir ke Ndalem Kaneman. Pemandu dari KMK yang turut mendampingi terdapat 2 orang, yaitu Sri Murwani (Iduk) dan Cika. Berangkat dari Teras Malioboro 1 ke kawasan Pasar Beringharjo, antusias peserta cukup tinggi. 


Di area Pasar Beringharjo, peserta belajar mengenai “Catur Gatra Tunggal” yang artinya tata letak kota berdasarkan 4 hal, yaitu pasar, alun-alun, keraton, dan masjid. Konsep pemerintahan DIY yang sudah ada sejak zaman Majapahit tersebut, digambarkan dengan empat bangunan tersebut yang tentu memiliki filosofi tersendiri. Area Pasar Beringharjo dulu digunakan sebagai pusat kota dan perbelanjaan sehingga otomatis menjadi pusat ekonomi. Hingga kini, di kawasan ini terdapat berbagai barang dagangan termasuk rempah-rempah dan bunga. 


Rempah sendiri merupakan salah satu bentuk sesajen. Cika menuturkan bahwa sesajen tidak hanya berkaitan dengan barang atau bentuk mentah, tetapi juga dalam bentuk sudah dimasak atau bisa diminum, salah satunya yaitu rempah-rempah. Beberapa contoh rempah yang bisa dijadikan sesajen adalah kencur, kayu manis, dan jahe.


Cika menambahkan bahwa sesajen merupakan filosofi sehingga masing-masing jenisnya memiliki makna tersendiri. Misalnya jahe saat dimasak lalu dimakan bisa menghasilkan efek hangat pada tubuh. Dalam menghadirkan sesajen, akan selalu ada makna filosofis yang mengikutinya dan tidak serta merta terkait dengan makhluk ghaib.


Masih di area Pasar Beringharjo, tur berjalan ke samping pasar. Peserta menemukan banyak penjual bunga di pinggir jalan. Kebanyakan bunga yang dijual berjenis mawar dan melati, tetapi penjual juga menyediakan ragam sesajen lain, seperti dupa dan macan kerah. Di sini Iduk menjelaskan bahwa bunga merupakan komponen pokok dalam sesajen, umumnya bunga mawar dan kantil dengan aroma khas. Peserta pun diperkenankan mencoba beberapa bunga untuk dimakan, seperti mawar, melati, dan kantil. 


Salah satu peserta tur asal Bandung bernama Andre mengatakan, “Kalau bunga kenanga dimakan terus ditelan itu enak. Kalau mawar rasanya manis kayak jambu.” Diskusi berlanjut cukup lama di sini. Iduk menjelaskan lebih lanjut tentang salah satu jenis sesajen bernama macan kerah. Menurut pemahaman Iduk, macan kerah terdiri dari berbagai sesajen (bunga, bedak, rempah, dll.), yang kandungan di dalamnya saling kerah atau bertengkar. 


Macan kerah memiliki fungsi untuk menghilangkan pegal-pegal di badan. Zaman dulu ketika perang berlangsung, sesajen ini digunakan para tentara perang untuk mandi guna menghilangkan hal-hal negatif setelah perang. Cara menggunakannya yaitu dengan direbus lalu ditambahkan masing-masing tiga jumput garam dan beras, lalu campurkan dengan air untuk mandi.


Ina selaku penjual sesajen di area pasar Beringharjo menuturkan bahwa ada banyak jenis sesajen dengan makna tersendiri dan manfaat yang berbeda pula. sesajen biasanya ditempatkan di rumah tertentu ataupun di jalan-jalan. Selain Macan Kerah, ada pula dupa yang dijadikan media komunikasi dengan leluhur. Dupa diartikan sebagai reward atau penghargaan kepada leluhur.


Setelah selesai di area Pasar Beringharjo, peserta beranjak menuju alun-alun utara. Di sana terdapat dua pohon beringin dan di sekeliling pagarnya diberikan pasir agar ekosistemnya seperti dulu lagi. Menurut cerita pemandu, dulu area alun-alun utara memang merupakan tanah dengan pasir di sekelilingnya. Melewati alun-alun, peserta berjalan menuju Pasar Ngasem. Di Pasar Ngasem peserta belajar mengenai jajanan pasar. Selain kopi, tumpeng, dan bunga yang dijumpai dalam sajen, jajanan pasar juga termasuk dalam komponen sajen. 


Pasar Ngasem sendiri dulunya merupakan pasar yang menjual aneka burung, kuda, keris, jajanan, dan masih banyak lagi. Namun, sekarang area ini telah dialihfungsikan sehingga lebih banyak penjual jajanan dan hal yang berkaitan dengan sayur-mayur. Terdapat tujuh jajanan pasar sebagai simbol pertolongan dari Tuhan. Tujuh macam jajan itu berupa jajanan yang memiliki rasa manis. 


Meski begitu, penjual menyediakan banyak sekali jajanan pasar termasuk tujuh yang sering dijadikan sajen tersebut. Penjual tersebut menjelaskan beberapa jenis jajanan serta filosofinya sehingga sering digunakan sebagai sajen. Jajanan lopis, cethil, dan ketan memiliki makna erat (agar memiliki hubungan lebih kuat satu dengan lainnya). Jajanan clorot berarti cemlorot yang memiliki makna bersinar. Sementara itu, masih banyak jajanan lain yang disediakan dengan makna filosofis berbeda-beda, seperti serabi, kipo, dadar gulung, nagasari, gatot, tiwul, wajik, dan lain sebagainya. 


Pemilihan jenis jajanan pasar yang digunakan untuk sesajen sendiri bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Artinya, tidak ada aturan baku terkait penambahan jajanan pasar sebagai sesajen, dan biasanya hanya mengikuti kebiasaan atau dicari yang makna filosofisnya tepat dengan upacaranya. Setelah tuntas belajar jajanan pasar sebagai sajen, acara tur diakhiri dengan kunjungan ke Ndalem Kaneman. Peserta bertemu dengan N.D. Artyandari (Ibu Ndari) selaku narasumber. Ibu Ndari menjelaskan jenis-jenis jenang dan bentuk upacara yang juga melibatkan sesajen sekaligus makna yang dikandungnya.


Beberapa yang dicontohkan oleh Ibu Ndari misalnya dalam upacara mitoni dihadirkan beberapa jenis tumpeng seperti tumpeng gurih, tumpeng jene, dan tumpeng gudangan. Tumpeng hadir sebagai bentuk sesajen meminta doa keselamatan. Tidak hanya itu, pada upacara tradisi besar, sesajen juga pasti dihadirkan. Berbagai kelengkapan sesajen yang seringkali muncul termasuk bunga, jenang, buah-buahan, serta tumpeng.


Melalui Tur Wicara Sajen FKY 2022 ini, terdapat sebuah kesimpulan menarik yang diungkapkan oleh Iduk selaku pemandu. Sajen pada dasarnya merupakan bagian dari warisan budaya Indonesia dari leluhur, yang perlu dijaga dan dilestarikan. Pemandu lain, Cika, juga menambahkan bahwa sebenarnya sajen merupakan bentuk positif antara manusia dengan alam lain serta manusia dengan Tuhan. Sajen bisa jadi salah satu media agar keseimbangan tetap terjaga.


Foto: Tim Dokumentasi FKY 2022
Teks: Tim Penulis FKY 2022

Can't create/write to file '/tmp/#sql_5804_0.MAI' (Errcode: 28 "No space left on device")