Yudha Kusuma Putra 'Fehung'

Monumen Sanitasi

Mixed Media

80 x 80 cm

2020

Semua orang terdampak. Semua orang merasakan. Semua orang gagap menghadapi pandemi. Mengikuti anjuran WHO (untuk tetap dirumah, menjaga jarak fisik, menggunakan masker ketika keluar rumah, dan mencuci tangan dengan sabun sesering mungkin) menjadi usaha pencegahan penyebaran virus Covid-19. Sebagai seniman, saya pun ikut mempertanyakan bagaimana posisi seniman atau seni menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian ini.

Kita dipaksa beradaptasi dan tetap bertahan dengan keadaan baru ini. Pelaku usaha kecil dan menengah, mau tidak mau tetap harus membuka gerai mereka, sekalipun banyak mengalami penurunan pendapatan dan lebih berisiko tertular virus dari pada mereka yang bekerja dari rumah. Pemerintah daerah (Pemda) memberi pengarahan kepada para pelaku usaha untuk menyediakan tempat cuci tangan di depan tempat usaha mereka. Penjual dan pembeli diwajibkan memakai masker serta menjaga jarak minimal satu meter.

Penyediaan tempat cuci tangan di depan rumah ternyata bukanlah hal yang baru. Terdapat kearifan lokal yang disebut padasan pada masyarakat Jawa zaman dulu. Padasan berarti menyediakan wadah air seperti gentong yang terbuat dari tanah liat di depan rumah mereka. Pemilik rumah atau orang yang berkunjung dapat mencuci tangan maupun kaki mereka sebelum memasuki area dalam rumah. Seiring berjalannya waktu, kebiasaan tersebut mulai ditinggalkan oleh masyarakat modern, hingga kemudian muncul kembali di masa pandemi ini.

Mari kita mengulang kembali pertanyaan: bagaimana seniman dapat bersikap menghadapi situasi ini? Apabila mengingat seniman adalah pembuat tanda dan penanda, maka menurut saya saat-saat sekarang ini perlu kita tandai sebagai pengingat di masa yang akan datang. Saya pun mendokumentasikan tempat-tempat cuci tangan yang diadakan secara swadaya oleh masyarakat di sekitar tempat tinggal saya. Dokumentasi tersebut saya kumpulkan berdasarkan satu lokasi kemudian saya gabungkan untuk disusun menjadi sebuah monumen yang saya sebut sebagai monumen sanitasi. Tindakan membuat atau menyusun ulang jejak tersebut merupakan usaha saya sebagai seniman membuat penanda bagi peristiwa hari ini, suatu peristiwa yang menuntut kebutuhan untuk mengubah semua kebiasaan kita di hari yang akan datang.

Tentang Seniman

Yudha Kusuma Putera (Magelang, 1987) adalah seorang seniman multidisiplin, tetapi banyak menggunakan medium fotografi dalam kekaryaan. Ia tinggal dan bekerja di Yogyakarta, serta lulus dari ISI Yogyakarta jurusan fotografi. Yudha sering membuat karya-karya yang bersifat kolaboratif dengan proses negosiatif. Proses ini sedikit banyak mengubah dan membentuk hasil akhir dari karya saya. Beberapa tahun belakangan, ia konsisten menggunakan metode kerja partisipatoris dan performatif. Tema yang muncul dalam karyanya bersifat dekat dan intim berdasarkan atas relasi antar manusia, seperti ruang hidup, tetangga, anak-anak, dan keluarga. Baginya, bernegosiasi dan membangun percakapan merupakan proses yang penting selain karya fotografi itu sendiri.

Pameran Lainnya