Membaca Kebudayaan Yogyakarta dari Catatan J.L. Moens

Catatan riset oleh Taufiq Nur Rohman


Kuntowijoyo pernah menyampaikan bahwa ada tiga cara pewarisan ingatan, yakni dengan mitos, sastra, dan sejarah. Ketiga unsur tersebut sengaja diciptakan dengan tujuan yang bermacam-macam, salah satunya adalah legitimasi kekuasaan. Sejarah yang konon dikenal sebagai penjaga fakta, sesungguhnya penuh dengan sifat subjektif (Kuntowijoyo, 2002). 

Tiga cara di atas merekam peristiwa masa lampau dengan bentuk dan caranya masing-masing. Babad, misalnya, sebagai media rekam sejarah, kadang-kadang bercampur antara mitos, sastra, dan sejarah. Perlu dibandingkan dengan sumber-sumber lain yang sezaman. Ambil contoh, apabila ingin melacak kebudayaan Yogyakarta, sama dengan mewajibkan kita untuk membuka kembali catatan-catatan lama. Rekaman peristiwa yang perlu disebut adalah peristiwa Jatisari yang termuat dalam Babad Giyanti karangan Yasadipura I.

Kita selalu mengingat Perjanjian Giyanti (13 Februari 1755) sebagai awal mula berdirinya Yogyakarta. Perjanjian Giyanti yang diperantarai oleh VOC tersebut menjadi penanda terbelahnya Mataram menjadi dua wilayah, yakni Yogyakarta dan Surakarta. Namun, ada satu peristiwa penting yang kerap dilupakan, yakni Perjanjian Jatisari. Dua hari setelah Perjanjian Giyanti diteken, Mangkubumi yang sudah dinobatkan menjadi Hamengku Buwana I (HB I) bertemu Pakubuwana III (PB III), keponakannya di Jatisari. Lokasinya berada di tengah-tengah Surakarta dan Giyanti. Pada pertemuan itu, PB III menghadiahi sang paman sebuah keris bernama Kyai Kopek yang diturunkan oleh Sunan Kalijaga. Keris tersebut kemudian menjadi salah satu dari tiga pusaka ageng yang dimiliki Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Pertemuan Jatisari kerap dijadikan patokan awal mula perbedaan budaya antara Yogyakarta dan Surakarta. HB I memilih untuk melanjutkan budaya Mataram, sedangkan PB III sepakat untuk memberikan modifikasi atau menciptakan bentuk budaya baru. Yogyakarta seolah-olah menjadi pewaris tunggal budaya Mataraman.

Dominasi mitos di dalam historiografi Jawa sangatlah kental. Babad misalnya, sangat dominan dengan kisah yang berkutat di lingkungan istana, tercampur antara mistis dan historis. Begitu pun yang tercantum dalam Babad Giyanti. Ada keberpihakan penulis dalam melukiskan kronik Mataram yang terbelah menjadi dua tersebut. Yasadipura I justru memuji-muji kehebatan Mangkubumi. Ia menganggap sosok PB III sangatlah lemah dan mudah disetir, padahal dirinya adalah pujangga Kasunanan Surakarta (Ricklefs, 2002).

Sangat wajar apabila babad digunakan sebagai sarana legitimasi kekuasaan. Perkembangan tradisi tulis di masyarakat pada waktu itu masih minim. Hanya berputar-putar di lingkungan istana. Seperti yang diungkapkan oleh Anthony H Johns bahwa pengetahuan sejarah adalah permainan kekuasaan (Johns, 1964). Tidak heran apabila ada idiom yang menyatakan bahwa “sejarah adalah sebuah galeri lukisan dengan sedikit karya asli” (Alexis de Tocqueville).

Produksi pengetahuan bagaikan sebuah permainan. Babad Giyanti serta Babad Tanah Jawi pun direproduksi atau disalin ulang, bahkan diterbitkan pula oleh Balai Pustaka pada 1937. Seolah-olah ini menjadi bacaan wajib apabila ingin mempelajari sejarah Jawa. Mirip dengan proyek penulisan sejarah Indonesia di masa Orde Baru ketika buku Sejarah Nasional Indonesia terus direproduksi sehingga menjadi dominan sebagai narasi tunggal. Agaknya, praktik tersebut adalah warisan dari sistem feodal yang “didukung” pula oleh pemerintah kolonial.

Merekam Kebudayaan di Tanah Jajahan

Praktik-praktik pemerintah kolonial di tanah jajahan tidak melulu pada hal-hal politis ataupun ekonomi. Lahirnya berbagai proyek ilmu pengetahuan kolonial juga berimbas pada kebudayaan yang berfungsi sebagai kontrol atas jajahannya. Semisal, para pelukis dari Eropa yang khusus didatangkan ke Indonesia sejak 1816-1942, seperti AAJ Payen, Theodorus Bik, Adrianus Bik. Kerja kolaborasi antara ahli botani, zoologi, sejarawan, antropolog dengan juru gambar berujung pada citra tanah jajahan yang eksotis atau indah.

Belanda memang yang pertama kali meletakkan dasar kolonialisme di Indonesia, tetapi Inggrislah yang menjadi pelopor produksi pengetahuan tentang tentang alam, masyarakat, sejarah, dan kebudayaan Indonesia (Margana, 2020). Berbagai karya mengenai kebudayaan Indonesia dihasilkan oleh pejabat-pejabat Inggris, seperti William Marsden yang menulis sejarah Sumatera dan Raffles dengan History of Java. Tak ketinggalan, mantan Residen Yogyakarta, John Crawfurd turut menulis sejarah kepulauan nusantara. Begitu juga dengan Colin McKenzie, sempat menyusun laporan riset mengenai Jawa sebelum wafat pada 1821. Ironisnya, tiga nama terakhir turut berperan dalam peristiwa penjarahan di Keraton Yogyakarta pada 1812.

Kesuksesan Inggris dalam proyek-proyek produksi pengetahuan tersebut menginspirasi pemerintah kolonial Belanda. Berbagai macam riset dilakukan di bawah pengelolaan Bataviaasch Genootschap. Pada 1820, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen melakukan ekspedisi pendataan naskah Merbabu atas perintah Van Der Capellen. Ekspedisi ini berdampak pada periode berikutnya. Sekitar 30 tahun setelah ekspedisi awal, Bataviaasch Genootschap berhasil mengumpulkan 500-an naskah yang saat ini dikenal dengan naskah Skriptorium Merapi Merbabu. Uniknya, ekspedisi tersebut berlangsung ketika beberapa bencana memicu perubahan tatanan masyarakat Jawa, seperti kolera (1821), Gunung Merapi meletus (1822), lalu gempa bumi (1823, 1824, dan 1825).

Pengumpulan naskah menjadi kegiatan rutin di sekitar tahun  1845 setelah terjadinya perubahan organisasi dan misi Bataviaasch Genootschap di bawah pimpinan Dr. W.R. van Hoevell dengan tunjangan Gubernur Jenderal J.J. Rochusen. Sejak masa Van Hoevell, Bataviaasch Genootschap sangat rajin mengumpulkan koleksi kepurbakalaan, etnografi, buku, dan naskah.

Pada tahun 1923, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen berubah nama menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Penyandangan kata Koninklijk merujuk pada gelar kehormatan yang diberikan langsung oleh Ratu Wilhelmina atas jasa-jasanya dalam riset di Indonesia.

Pascapemberlakuan politik etis, peranan bumiputra dalam produksi pengetahuan semakin banyak. Jenjang pendidikan yang lebih tinggi mengakibatkan lahirnya elite baru/modern di luar kalangan istana, termasuk bumiputra yang beruntung menempuh studi pendidikan di Eropa. Sarjana-sarjana baru di berbagai bidang ilmu bermunculan. Sebut saja Hoesein Djajadiningrat yang sempat menjadi ketua Bataviaasch Genootschap.

Periode tersebut juga menandai kolaborasi antara sarjana bumiputra dengan sarjana Belanda. Lahirnya Java Instituut pada 1919 menggambarkan pentingnya sebuah lembaga untuk mengkaji bahasa dan kebudayaan Jawa, Sunda, Bali, dan Madura yang diinisiasi oleh kalangan bumiputra. Java Instituut didirikan dari hasil rekomendasi Kongres Bahasa Jawa I pada 5-7 Juli 1918 di Surakarta. Pendirinya adalah KGPAA Prangwedana (kelak Mangkunegara VII), Hoesein Djajadiningrat, R. Sastrowijono, dan E.D.K. Bosch. Java Instituut bertujuan untuk mengumpulkan dan menyebarkan segala macam informasi yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa, Sunda, Madura, dan Bali, baik yang terbaru ataupun lampau.

Pada praktiknya, Java Instituut menjadi lembaga penelitian serta pendokumentasian kebudayaan. Terlihat dari berbagai kegiatan yang diselenggarakan, seperti penerbitan majalah Djawa & Pandji Poestaka, pameran, kursus, serta acara kongres kebudayaan. Pada Kongres Kebudayaan di Bandung tahun 1921, salah satu materi yang dibicarakan adalah gamelan Jawa. Pembicaranya adalah Brandts Buys, Djajadipoera, S. Hofland, J. Kats, Soerjapoetra, dan Wreksadiningrat. Pada kongres tersebut diputuskan akan diadakan kompetisi notasi gamelan. Baru tiga tahun kemudian kompetisi tersebut membuahkan hasil, tepatnya ketika kongres kebudayaan di Surakarta. Pemenangnya adalah notasi karangan Wreksadiningrat yang sampai saat ini dikenal dengan istilah notasi Kepatihan.

Pada proses pengumpulan naskah-naskah Jawa, Java Instituut dibantu sebuah lembaga yang bernama Panti Boedaja. Lembaga yang berdiri di Surakarta pada 1930 tersebut bertugas mengumpulkan naskah-naskah yang tersebar di wilayah Yogyakarta dan Surakarta. Mereka membeli naskah dari masyarakat lalu dialihaksarakan. Naskah yang terkumpul disimpan di kediaman Dr. H. Kraemer di Surakarta. Pada 1935, Kraemer harus kembali ke Belanda sehingga Panti Boedaja harus berpindah sekretariat. Koleksinya lalu disimpan di samping kompleks Museum Sonobudoyo yang baru saja dibuka. Perlu digarisbawahi bahwa kegiatan Panti Boedaja mengumpulkan naskah didanai oleh pemerintah Belanda melalui Bataviaasch Genootschap. Begitu juga dengan Museum Sonobudoyo, pendanaan disokong oleh pemerintah kolonial serta sumbangan dana dari empat kerajaan, yaitu Yogyakarta, Surakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman. Praktis, setelah kepergian Kraemer ke Belanda, terjadi kekosongan koordinator. J.L. Moens kemudian ditunjuk menggantikan peranan Kraemer sebagai Wakil Ketua Museum Sonobudoyo bersama dengan Dr. Th.Pigeaud.

Naskah-naskah yang dikumpulkan Moens bersama Pigeaud diberi kode KBG karena kegiatan mereka berada dalam kewenangan Batavia, yakni Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Daerah operasi Moens berada di sekitaran Yogyakarta, sedang Pigeaud mengumpulkan naskah di daerah Surakarta. Nama Moens memang terdengar asing dibandingkan koleganya. Hal ini wajar karena Moens bukan berlatar belakang ahli kesusastraan seperti Pigeaud. Moens merupakan insinyur perairan yang ditugaskan oleh pemerintah kolonial.

 

Rekam Jejak Moens di Yogyakarta

Perkenalan Moens terhadap kebudayaan Jawa dimulai pada tahun 1924. Kala itu ia menjabat sebagai Kepala Teknisi Dinas Pengairan di wilayah Yogyakarta. Di sana Moens bertemu dengan para ilmuwan dan pemerhati budaya Jawa dari kalangan bumiputra maupun Belanda, termasuk Th. Pigeaud dan Mangkunegara VII. Karir Moens pun berlanjut di bidang kebudayaan. Tak lama kemudian, Moens menduduki jabatan Wakil Ketua Museum Sonobudoyo. Ia juga berperan sebagai redaktur majalah Djawa terbitan berkala Java Instituut.

Sekitar tahun 1929-1942, Moens gemar mengumpulkan segala macam informasi yang berhubungan dengan kebudayaan dan kehidupan masyarakat Jawa, khususnya di Yogyakarta. Ia mulai mengumpulkan naskah, benda purbakala, barang antik, wayang, hingga informasi yang sifatnya lisan.

Moens memproduksi pengetahuan yang berkaitan dengan kebudayaan Jawa dengan cara memesan naskah kepada para dalang yang berdomisili di pinggiran kota Yogyakarta, seperti Godean, Gunungkidul, dan Kulon Progo. Para dalang diminta untuk  menyusun buku atau pakem dengan lakon-lakon wayang yang menggambarkan hal-hal takhayul, magis, kepercayaan, adat istiadat, seni pertunjukan, dan sebagainya. Dengan melihat cara kerjanya, dapat dipastikan bahwa Moens adalah seorang kolektor yang mencintai kebudayaan Jawa. Berbeda dengan koleganya, selain berprofesi sebagai agen lapangan pengumpulan naskah, Pigeaud juga seorang filolog yang pernah menyusun kamus Belanda-Jawa.

Hingga masa pendudukan Jepang, Moens berhasil mengumpulkan ratusan naskah. Naskah koleksinya dihiasi dengan coretan gambar tangan yang sederhana, berwarna-warni, bergaya wayang maupun naturalis, serta agak sedikit nyeleneh. Gambar-gambar ini berfungsi untuk mengilustrasikan adegan berdasarkan keterangan/teks pada naskah.

Kebanyakan naskah yang diproduksi oleh Moens merupakan hasil garapan dua dalang yang berkediaman di pinggiran wilayah Yogyakarta, yaitu Ki Widiprayitna dari Sentolo, Kulon Progo, dan Ki Cermapawira dari Ngabangan, Godean. Mereka kerap disebut sebagai kolega utama atau koordinator dalam penyusunan naskah-naskah pesanan Moens. Di samping dua nama di atas, terdapat beberapa sosok lain berdasar catatan pada punggung naskah ataupun salinan naskah, seperti Cermadiyasa dari Padasan (Maguwo), Raden Mangoensoewarna dari Suryaseputran, M. Djajaatmadja di Nitiprayan (Dagen), serta seorang dalang dari Kentheng (Kulon Progo).

Dari ratusan naskah yang terkumpul, terdapat beberapa naskah yang secara bentuk sedikit berbeda. Naskah tersebut kerap disebut sebagai Album Moens. Antara tahun 1929-1937, J.L. Moens memprakarsai pembuatan album-album bergambar tentang kebiasaan dan kebudayaan orang Jawa di Yogyakarta, baik di dalam maupun di luar karaton. Isi naskah-naskah tersebut antara lain tentang permainan anak, gambar pengantin keraton, upacara-upacara di dalam dan di luar keraton, dongeng, pewayangan, pertunjukan jalanan, tata cara dan adat istiadat, pertanian, ciri-ciri wanita, dan lain-lain. Album-album ini juga dilengkapi dengan keterangan peristiwa yang dilakukan, keterangan objek dan subjek yang tergambar di dalamnya.

Apabila diperhatikan dari cara menggambar, nampaknya ilustrasi naskah dikerjakan lebih dahulu. Terdapat bekas coretan pensil yang mengindikasikan bahwa ilustrasi disketsa lebih dahulu. Setelah pembuatan sketsa selesai, selanjutnya dilakukan pewarnaan dengan metode yang lazim dilakukan pada sunggingan wayang. Moens menyatakan bahwa penggunaan gambar atau ilustrasi merupakan ciri khas naskah-naskah yang berasal dari daerah Yogyakarta dibandingkan dengan naskah-naskah dari Surakarta.

 

Album Moens: Merekam Kehidupan Sehari-Hari Masyarakat Yogyakarta

Seri Album Moens dibuat atas biaya Koninklijk Bataviaasch Genootschap di Batavia yang kemudian menjadi koleksi lembaga tersebut. Hingga saat ini, seri Album Moens masih tersimpan di Perpustakaan Nasional, sedangkan beberapa salinan keterangan Album Moens yang dilakukan Pigeaud tersimpan di Perpustakaan UI dan Museum Sonobudoyo. Beberapa naskah yang dikoleksi (selain Album Moens) juga tersebar di berbagai tempat, seperti di Museum Sonobudoyo, perpustakaan UI, serta perpustakaan Universitas Leiden.

Adapun 30 Album Moens yang tersusun adalah sebagai berikut: 1) Jongensspelen (KGB 926); 2) Meisjesspelen (KBG 927); 3) Kaart-en Dobbelspelen (KBG 928); 4) Bruiloft in den Keraton/Gambar Manton Putri Putra Kraton Ngayogyakarta (KBG 929); 5) Kepatihanfeest/Tuguran (KBG 930); 6) Dongeng Konthol Sewu (KBG 931); 7) Dongeng Pandhan Japlak (KBG 932); 8) Cembengan Gunung Gamping lsp (KBG 933); 9) Wiyosan Dalem, Labuhan, Sunatan lsp (KBG 934); 10) Kanjeng Kyai Tunggul Wulung (KBG 935); 11) Gambar Ringgit Wacucal (dewa-dewa) (KBG 936); 12) Garebeg Mulud Dal (KBG 937); 13) Begrafenis Sultan VII (KBG 938); 14) Andhe-Andhe Lumut, Jaka Bodo, Brambangan (KBG 939); 15) Straatvertooningen (KBG 940); 16) Gambar Ringgit Wacucal (hewan) (KBG 941); 17) Sawah-cultuur (KBG 942); 18) Tata Cara Nglabuh ing Pasisir Kidul lsp (KBG 943); 19) Gelungan lsp (KBG 944); 20. Serat Triman (KBG 945); 21) Siraman, Siyam, Maleman (KBG 946); 22) Ngabekten lsp (KBG 947); 23) Tetulak Garebek Dal lsp (KBG 948); 24) Keratonspelen (KBG 949); 25) Keratonhuishouding (KBG 950); 26) Kleding en Staatsie 1 (KBG 951); 27) Kleding en Staatsie 2 (KBG 952); 28) Kleding en Staatsie 3 (KBG 953); 29) Kleding en Staatsie 2 (KBG 954); 30) Kleding en Staatsie 2 (KBG 955).

Dari ketiga puluh daftar di atas, terdapat beberapa naskah yang sudah dialihaksarakan dan bisa diakses publik. Beruntung, naskah yang sudah dialihaksarakan bertemakan pertanian, permainan anak-anak, dan pertunjukan jalanan. Naskah tersebut adalah Straatvertooningen (KBG 940), Jongensspelen (KGB 926), Meisjesspelen (KBG 927), dan Sawah-cultuur (KBG 942).

Naskah Meisjesspelen ‘Permainan Anak-Anak Perempuan’ ditulis dalam bentuk prosa dan berisi deskripsi 85 jenis permainan anak perempuan dengan ilustrasinya masing-masing. Catatan pada awal naskah mengindikasikan bahwa naskah ini berasal dari Yogyakarta. Begitu pula naskah Jongensspelen ‘Permainan Anak Laki-Laki’ yang berbentuk prosa disertai ilustrasi berwarna dari 83 permainan anak laki-laki. Apabila dibandingkan, terdapat beberapa jenis permainan yang sama, semisal gobag sodor dan jelungan umpet.

(Ilustrasi permainan Gobag Sodor, © Perpusnas) 

Berdasarkan deskripsi singkat, tidak ada perbedaan sama sekali dari segi permainan. Masing-masing anak saling berpasangan dan dipisah menjadi dua kelompok. Garis persegi panjang dibagi menjadi delapan petak. Permainan menggunakan tebakan asat agung, menggunakan pecahan gerabah yang diludahi satu sisi kemudian dilemparkan ke atas. Jika jatuh basah maka agung, jika jatuh kering maka asat. Tebakan yang kalah berjaga menempatkan diri di garis, sementara satu di tengah menjadi sodor untuk menjaga musuh yang akan masuk garis. Jika ada yang terpegang salah satu saat masuk, maka kemudian ganti berjaga. Jika masuknya tidak tertangkap sampai kembali ke tempat berangkat, disebut butul. Kemudian, yang berhasil semuanya digendong oleh pasangan masing-masing, demikian seterusnya.

Contoh berikutnya adalah jelungan umpet yang lazimnya dikenal sebagai dhelikan. Keterangan pada naskah menyatakan bahwa permainan ini sedikitnya dilakukan oleh delapan anak laki-laki. satu anak berada di jelungan untuk berjaga, tujuh lainnya bersembunyi. Anak yang dadi ‘jadi’ (berjaga) akan bertanya kepada teman-temannya yang hendak bersembunyi wis apa durung?. Anak yang bersembunyi menjawab wis, cul. Anak yang berjaga kemudian mencari mereka yang sembunyi. Jika ada yang jelung, kemudian dikejar. Siapa yang tertangkap akan gantian berjaga.

Deskripsi yang terdapat pada naskah Meisjesspelen sedikit berbeda. Permainan jelungan umpet ini diawali dengan beberapa anak suit menggunakan jari, yang kalah menjadi anak yang mencari alias dadi. Kemudian, mereka mencari benda untuk jelung, biasanya pohon atau tiang. Anak-anak yang tidak dadi akan bersembunyi, sedangkan anak yang dadi menunggu jelungan. Jika sudah sementara waktu, anak yang berjaga berteriak dengan maksud bertanya duk. Jika sudah mendapat jawaban seperti itu, anak yang berjaga segera mencari. Jika menemukan tempat persembunyian, anak-anak yang bersembunyi kemudian berlari menuju tempat jelungan. Anak yang mencari juga tidak boleh ketinggalan, segera mengejar anak-anak tersebut. Siapa yang tertangkap sebelum memegang jelungan akan ganti berjaga. Anak yang menyentuh jelungan sambil bersuara seru jelung. Jika sudah jelung, kemudian istirahat menunggu nanti bila diulang bermain lagi.

Namun, sering juga ada anak yang kemudian ikut lagi. Ini disebut nusuli sega wadang ‘menyusul nasi basi’. Anak yang seperti ini ketika mulai menyusul sambil bersuara nusuli sega wadang, lawuhe kendu urang. Biasanya anak nusuli sega wadang ini hanya karena terbawa senang menggoda yang berjaga supaya lelah, atau jika anak yang pemarah jadi mudah marah lantas tidak mau bermain atau berjaga. Keterangan mengolok-olok bocah yang dadi di atas tentu mengingatkan pada yel-yel trasi bakaran bocah dadi urikan, merujuk pada anak yang harusnya berjaga tetapi kecil hati karena kalah terus.

 

Kedua naskah di atas bisa dijadikan beberapa acuan untuk merekonstruksi ulang peristiwa-peristiwa permainan anak, bila mengingat beberapa jenis permainan tradisional sulit ditemui dewasa ini. Terdapat pula beberapa permainan yang diadakan pada saat tertentu. Contohnya adalah lare dolanan malem selikur ngungelaken mriyeman, lare dolanan malem selikur nabuh tidhuran, dan lare dolanan malem selikur sami ngungelaken mrecon. Permainan tersebut hanya diadakan ketika bulan puasa. Ada pula beberapa permainan yang masih dikenal, seperti jamuran, cublak-cublak suweng, sluku-sluku bathok, gamparan angkling/ingkling, benthik, dan egrang.

Naskah berikutnya adalah Sawah-cultuur atau Caranipun Tiyang Anggarap Sawah/Bab Sawah. Naskah ini menyajikan enam puluh gambar ilustrasi. Masing-masing ilustrasi disertai keterangan yang berkaitan dengan kegiatan bercocok tanam di sawah, mulai dari mencangkul, membajak sawah, menyebar benih padi, panen, hingga selamatan. Bagian selamatan dibagi ke dalam beberapa tahapan. Ada selamatan membuka lahan, selamatan hendak menanam benih, selamatan panen, hingga selamatan merti dusun. Detail jenis makanan yang disajikan pun tertulis dengan lengkap. Semisal, ketika selamatan merti dusun. Terdapat beberapa menu antara lain: 1) nasi tumpeng sayuran, telur ayam rebus; 2) pisang ayu, sĕdhah ayu, sĕdhah, sata éca, sĕkar campur-bawur, séla; 3) jangan mĕnir; 4) pĕcĕl ayam; 5) kĕndhi baru penuh berisi air; 6) sĕkar konyoh borèh wangi, sarta séla; 7) merang ketan hitam untuk membakar batu (kemenyan); dan 8) tikar baru. Kedelapan makanan tersebut adalah sajian khusus untuk Mbok Dèwi Sri yang dipercayai sebagai Dewi Padi atau Dewi Kesuburan.

(Ilustrasi padi dimakan hama mĕnthèk, , © Perpusnas)

Ditampilkan pula jenis-jenis selamatan yang sifatnya menolak hama yang mengganggu pertanian, seperti hama tikus, hama klinthing, hama reges, ulat blirik, dan uret. Bahkan, terdapat catatan selamatan menolak gangguan makhluk halus. Hama mĕnthèk terlihat seperti anak-anak kecil yang bertelanjang bulat semuanya. Hama tersebut terbilang sulit diusir.

Dari enam puluh ilustrasi yang terdapat dalam naskah Caranipun Tiyang Anggarap Sawah, ditemukan beberapa bagian yang tidak berhubungan dengan kegiatan bertani. Sepuluh keterangan terakhir justru memuat selamatan kelahiran bayi, baik sebelum maupun sesudah bayi lahir.

Berikutnya, naskah terakhir yang diulas adalah Straatvertooningen ‘Pertunjukan Jalanan’. Terdapat 71 jenis pertunjukan jalanan, baik yang sudah hilang maupun yang masih berlangsung pada masa itu. Naskah Straatvertooningen disusun oleh R. Mangunsuwarna, Ng. Jagaradana, dan Jayahatmaja berdasarkan informasi yang tertera pada salinan naskahnya.

Dari 71 jenis pertunjukan yang dicatat, sebagian besar nama yang tertera terdengar asing. Sebagai contoh adalah pertunjukan sulapan bangsa bombok, pertunjukan baung, pertunjukan gangsa gowangan, pertunjukan injen-injenan (intip mengintip), pertunjukan menirukan bunyi hewan, pertunjukan gangsa hidung, dan masih banyak lagi. Kalaupun ada beberapa bentuk kesenian yang masih kerap ditemui, itu pun sulit sekali untuk disaksikan sebagai kesenian jalanan. Istilah mbarang di jalanan dari rumah ke rumah memang sudah tak lazim, tapi rekaman Moens membuktikan bahwa kesenian jalanan saat itu sangat banyak dan beragam.

(Ilustrasi pertunjukan sulapan,  © Perpusnas)

Gambar di atas merupakan pertunjukan sulapan. Sebagai pekerjaan, tukang sulap memang masih mudah ditemukan. Namun, membayangkan sulap sebagai pertunjukan jalanan tentu hal yang langka. Kalaupun sekarang ada tukang sulap yang menampilkan keahliannya di beberapa titik, itu pun karena faktor pandemi virus corona yang menggilas lini pekerjaan warga di Yogyakarta.

Satu pertunjukan yang cukup menarik adalah pertunjukan wayang taledek pria. Iringan penari menggunakan mulut yang mengeluarkan bunyi-bunyian gong, kendang, terkadang diselingi senggakan. Biasanya pertunjukan jenis ini dapat ditemukan di sepanjang pasar atau daerah pecinan. Adanya penggambaran seorang pria berdandan wanita pun bukan hal yang tabu saat itu. Ilustrasi yang ditampilkan pada naskah tersebut juga didukung beberapa sumber foto yang menunjukan sebuah pertunjukan jalanan dengan penari laki-laki berdandan perempuan.

(Ilustrasi pertunjukan wayang taledek pria, © Perpusnas)

(Penari jalanan di Yogyakarta sekitar 1939, © Foto Zindler - KITLV)

Naskah Straatvertooningen tidak hanya mengungkapkan jenis kesenian jalanan dalam bentuk ilustrasi. Namun, menyertakan kisaran bayaran yang diterima untuk masing-masing pertunjukan. Naskah tersebut juga menghadirkan beberapa kesenian yang sejatinya berasal dari luar Yogyakarta, seperti pertunjukan wayang tledek Semarang, pertunjukan wayang tledek Bangung (Doger), dan pertunjukan kethek ogleng yang umumnya dibawakan oleh orang Wedi.

 

Album Moens Sebagai Refleksi Kehidupan Sosial

Album Moens menyajikan rekonstruksi kebudayaan "pinggiran" Yogyakarta pada awal abad ke-20. Moens yang lingkup kerjanya di bidang irigasi, memungkinkan daya jelajahnya di wilayah Yogyakarta semakin luas. Relasi kerja Moens tidak hanya pada kalangan elite keraton. Namun, mampu menjangkau wilayah pinggiran, seperti Sentolo, Imogiri, dan Gunungkidul. Faktanya, sebuah arsip menunjukan bahwa Moens sering mengunjungi daerah Pucung. Daerah yang sampai detik ini dikenal pula sebagai sentra wayang kulit (Rahmawati, 2019). Moens memang seorang penggila wayang bila dilihat dari beberapa koleksinya yang dipenuhi oleh kisah serta gambar wayang.

Pembacaan atas karya Moens tidak bisa dipandang dengan mentah bahwa karya tersebut termasuk kategori sastra. Karya sastra merupakan refleksi sosial kehidupan sehari-hari yang dapat digunakan sebagai salah satu sumber untuk menuliskan sejarah masyarakat, sejarah orang kebanyakan atau sejarah sosial kehidupan sehari-hari. Gambaran masa lalu tentang kehidupan sehari-hari masyarakat ditemukan dalam kajian ilmiah para antropolog atau ahli bahasa, selain karya sastra. Sumber-sumber simbolik, seperti patung, lukisan, karikatur, dan ruang dapat digunakan sebagai sumber sejarah. Tulisan sejarah tidak lagi konstruksi atas masa lalu, melainkan refleksi kesadaran intelektual atau budaya (Purwanto, 2008).

Rekaman Moens atas kebudayaan Yogyakarta menjadi satu sumber berharga yang bisa dimanfaatkan. Wacana yang selama ini kerap terpinggirkan, ditampilkan dalam Album Moens. Naskah Straatvertooningen melukiskan masyarakat miskin yang berprofesi sebagai seniman jalanan. Sementara itu, naskah Jongensspelen dan Meisjesspelen memotret kehidupan anak-anak yang tengah bermain bersama-sama. Begitu pula dengan Caranipun Tiyang Anggarap Sawah, naskah ini menekankan bahwa bertani bukan hanya tentang menanam padi, melainkan aspek-aspek simbolik yang mewarnai setiap langkah/proses untuk menghasilkan padi yang baik.

Sayangnya, kerja kebudayaan yang dilakukan oleh Moens cenderung menguntungkan dirinya pribadi. Relasi patron klien diterapkan untuk mengejar target Panti Boedaja dalam bidang pengumpulan dan pembuatan naskah. Kolaborasi antara Moens dengan para dalang yang menyusun naskah bersifat transaksional. Pendapat tersebut diperkuat dengan tidak ada satu pun naskah yang disusun Ki Widi Prayitna bersama Moens tertinggal dan diwariskan kepada keturunannya. Tradisi pedalangan yang sempat dituliskan tersebut pada akhirnya tersebar ke berbagai macam perpustakaan (Raharja, 2014).

Terlepas bahwa kerja-kerja Moens beserta koleganya adalah praktik dari kolonialisme, rekaman tersebut menjadi penting untuk membaca kebudayaan Yogyakarta yang beragam. Entah, apa motivasi Moens membuat manuskrip yang dihiasi dengan lukisan-lukisan. Apakah meneruskan tradisi eksotis pendahulunya, atau karena keterbatasan dana? Sejalan dengan pernyataan Henk Schulte Nordholt, arsip kehidupan sehari-hari di Indonesia pada zaman kini seharusnya arsip audiovisual. Representasi audiovisual kehidupan sehari-hari tidak dimaksudkan untuk menjadi lukisan penghias teks tertulis, justru sebaliknya. Semoga saja, motif Moens adalah pernyataan kedua.

 

Referensi:

Hernawan, Bambang. 2018. Jogenssplenen: Permainan Anak Laki-Laki (Alih Aksara dan Alih Bahasa). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Hernawan, Bambang. 2018. Meisjesspelen: Permainan Anak-Anak Perempuan (Alih Aksara dan Alih Bahasa). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Purwanto, Bambang. 2008. “Menulis Kehidupan Sehari-Hari Jakarta: Memikirkan Kembali Sejarah Sosial Indonesia” dalam Henk Schulte Nordholt (eds). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Behrend, T.E. (eds). 1997. Katalog Induk Naskah-naskah Nusantara FSUI. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Nordholt, Henk Schulte. 2008. “Don’t forget to remember me: Arsip Audiovisual Kehidupan Sehari-hari di Indonesia pada Abad ke-21” dalam Henk Schulte Nordholt (eds). Perspektif Baru Penulisan Sejarah Indonesia. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Johns, Anthony H.. 1964 The Role of Structural Organisation and Myth in Javanese Historiography”. The Journal Asian Studies, Vol. 24 No. 1. Cambridge: Cambridge University Press, 1964.

Kuntowijoyo. 2002. Selamat Tinggal Mitos, Selamat Datang Realitas: Esai-esai Budaya dan Politik. Bandung: Mizan.

Raharjo, Priyo Agung. 2019 Caranipun Tiyang Anggarap Sawah (Alih Aksara dan Alih Bahasa). Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Raharja, R. Bima Slamet. 2014. “Pakem Grenteng: Varian Tradisi Tulis Pakem Pedalangan Gaya Yogyakarta”. dalam Jurnal Jumantara Vol. 5 No. 2. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Ricklefs, M.C.. 2002. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792: Sejarah Pembagian Jawa. Yogyakarta: Mata Bangsa.

Rahmawati, Salfia. “The Collectie Moens: Dialektika Produksi Naskah dan Budaya Rural Yogyakarta Awal Abad ke-20”. dalam International Symposium on Javanese Studies and Manuscripts of Keraton Yogyakarta,  5-6 Maret 2019.

Rahmawati, Salfia. 2019. Straatvertoningen: Transliterasi dan Terjemahan Naskah Seni Pertunjukan Jalanan. Jakarta: Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Margana, Sri. 2020. “Memvisualkan Negeri Jajahan: Ilmu Pengetahuan dan Lukisan pada Masa Awal Kolonialisme di Indonesia” dalam Mikke Susanto (eds). Kreativitas & Kebangsaan: Seni Menuju Paruh Abad XXI. Yogyakarta: Badan Penerbitan ISI Yogyakarta. 

Can't create/write to file '/tmp/#sql_5804_0.MAI' (Errcode: 28 "No space left on device")