Lokasi

Lapangan Desa Logandeng
Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen
Gunungkidul

Tanggal

11 - 18 Oktober 2025

Kabar

Rajakaya: Menegosiasikan dan Merawat Kebudayaan Yogyakarta

Kamis, 06 November 2025 Penulis: Ashari Ariya Editor: Putri AF
Momen Pawai Rajakaya FKY 2025: antara hewan ternak, warga, dan perayaan. (Foto oleh FKY 2025)

Sore itu, di bawah sepuhan matahari Logandeng, iring-iringan pawai bergerak keluar dari Pasar Hewan Siyono, Gunungkidul. Barisan Bregada, pick-up pengangkut sapi, kambing-kambing, dan puluhan penari berjalan mengular di jalan desa. Suara embikan bersahutan dengan irama kentongan, derap langkah teklek, dan tetabuhan drum. Di tepi jalan, warga tumpah ruah: anak-anak berlarian, menyoraki, orang dewasa berjejal menyaksikan, beberapa mengangkat ponsel mendokumentasikan.

Pawai Rajakaya, pembuka Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025, menghadirkan pemandangan yang jarang terlihat: rupa, kriya, tari, dan hewan ternak berpadu dalam harmoni gerak dan bunyi. Lima sapi dan tiga puluh satu kambing dari empat kabupaten dan satu kota di DIY diarak dengan hiasan ubo rampe dan kupat gantung. Para peternak, keluarga, dan komunitas lokal berpakaian tradisional ikut mendampingi. Sebagian mengenakan kostum kambing dan sapi, menghadirkan percampuran antara ritual agraris dan street performance — perpaduan tradisi dan kreasi dalam satu perayaan publik.

Dalam tradisi Jawa, Rajakaya — sapi, kambing, atau kerbau — melambangkan kemakmuran dan penghidupan. Namun sore itu, hewan-hewan ini tampil bukan di kandang atau pasar, melainkan di panggung kebudayaan. Sebagai seseorang yang menempuh studi tentang festival dan kebijakan budaya, saya bertanya-tanya: apa yang sebenarnya sedang kita rayakan di sini? Kebudayaan, atau kehidupan itu sendiri?

Pertanyaan itu membawa saya untuk melihat FKY lebih dalam. Di balik kemeriahan festival, saya mulai memahami bahwa FKY bukan sekadar ajang perayaan, melainkan ruang di mana seni, tradisi, dan kehidupan sehari-hari saling bersinggungan bahkan bertukar posisi. Melalui program publik bertema Rajakaya —seperti Pawai, Kompetisi, dan Lokakarya— FKY menegaskan perannya sebagai laboratorium budaya: bukan sekadar tontonan, tapi ajakan untuk berdiskusi dan menegosiasikan kebudayaan hari ini.

Tulisan ini berupaya membaca peran Festival Kebudayaan Yogyakarta melalui program publik bertema Rajakaya serta menelusuri bagaimana relevansinya dapat terus dijaga.

Carnavalesque: Pawai sebagai Ruang Liminal

Pawai Rajakaya FKY 2025 menampilkan hewan ternak sebagai simbol kemakmuran agraris. (Foto oleh FKY 2025)

Festival sering dipahami sebagai ruang liminal — ruang sementara yang memungkinkan pembalikan tatanan, percampuran peran, dan pelebaran batas-batas budaya (Turner 1978; Bakhtin, 2011). Pada FKY 2025, gagasan ini tampak nyata dalam Pawai Rajakaya.

Dalam kosmologi Jawa, rajakaya merujuk pada hewan ternak sapi, kambing, atau kerbau, yang menjadi simbol kesejahteraan dan penghidupan. Konsepsi ini menandai relasi timbal balik antara manusia dan lingkungan, serta rasa syukur terhadap kehidupan yang menopang mereka. Pada konteks Gunungkidul akar simbolik ini mewujud pada tradisi Gumbregan, sebuah ritual yang dilakukan sebagai ungkapan syukur atas kesehatan dan keselamatan ternak.

Pada Pawai Pembukaan FKY 2025, tradisi itu direkontekstualisasi ke dalam format festival kontemporer. Hewan ternak yang biasanya menjadi bagian ritual kini tampil di ruang publik bersama musik, kostum, dan tata gerak hasil kreasi seniman serta komunitas lokal. Perpaduan antara ritual dan pertunjukan ini menjadikan pawai bukan sekadar tontonan, melainkan peristiwa kebudayaan yang hidup, tempat audiens menafsir ulang relasinya dengan dunia sekitar.

Seorang peserta pawai berfoto bersama sapi dari Kontingen Kabupaten Gunungkidul dalam Pawai Rajakaya FKY 2025. (Foto oleh FKY 2025)

Dari permukaan, tampak kontras yang menarik: dominasi ukuran sapi Gunungkidul beriringan dengan kontingen Kota Yogyakarta yang mengenakan kostum Shaun the Sheep — ternak dalam versi urban-imajinatif. Perbedaan ini seolah menandai peta ekonomi-politik kebudayaan di DIY: antara yang material dan simbolik, antara yang nyata dan representasi. Keduanya bertemu di ruang yang sama, menegosiasikan makna, seolah menebalkan catatan tema festival tahun ini: Adoh Ratu, Cedhak Watu.

Inilah bentuk karnaval dalam pengertian Bakhtin— momen ketika yang rendah, profan, dan keseharian memperoleh tempat di panggung yang biasanya didominasi oleh yang adiluhung. Dalam konteks FKY, menghadirkan rajakaya bukan sekadar menghadirkan unsur agraris, tetapi juga strategi kebudayaan yang memperluas definisi tentang apa yang layak disebut “kebudayaan”.

Anak-anak dari Kontingen Yogyakarta tampil ceria dalam kostum kambing. (Foto oleh FKY 2025)

“Kebudayaan dan festival kebudayaan bukan hanya milik seniman dan budayawan,” ujar Bimo Rosanto, programmer Program Publik FKY 2025. “Kami mencoba menjangkau hal-hal yang tidak dijangkau teman-teman di program lain. Peternakan, misalnya—mungkin hanya di program publik yang melibatkan peternak. Di pameran tidak ada.”

Pernyataan itu merangkum semangat FKY sebagai ruang pertemuan, antara seniman dan warga, antara tradisi dan kontemporer, antara kebudayaan dan kehidupan.

Kompetisi Rajakaya: Merayakan kambing di Panggung Kebudayaan

Suasana Kompetisi Rajakaya Angon Wedhus di FKY 2025. (Foto oleh FKY 2025)

Hari kelima festival, matahari Gunungkidul sedang terik-teriknya. Dari gerbang Lapangan Logandeng, satu per satu mobil pick up berdatangan membawa boxpas, kotak kayu khusus berisi kambing Peranakan Etawa (PE) Kaligesing. Setibanya di tenda kompetisi, para pemilik menurunkan kambing dengan hati-hati—menyisir surai, mengelap tanduk, bahkan memberi semir agar tampak berkilau.

“Ini Elips, biar kinclong,” ujar seorang peternak memperlihatkan bungkusan vitamin rambut Elips silky black yang diusapkan ke rambut Kambing peliharaanya.

Sebanyak empat puluh dua kambing dari empat kabupaten dan satu kota mengikuti Kompetisi Rajakaya: Angon Wedhus, Piala FKY 2025. Di bawah tenda kompetisi, kambing-kambing berdiri sejajar, dicencang pada rangka besi, sementara warga duduk di tepi arena. Nuansa komunitas terasa kuat. Para pemilik kambing datang bersama keluarga, membawa anak-anak, saling menyapa, berjabat tangan, dan melempar senyum perjumpaan. Beberapa peserta mengenakan kaos dari kontes sebelumnya—seperti Kapolres Cup—dengan logo asosiasi peternak seperti PERKKANAS (Perkumpulan Peternak Kambing Kaligesing Nasional), ASPPEG (Asosiasi Peternak Peranakan Etawa Gunungkidul), dan DKPP (Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian).



“Ini saatnya Panjenengan yang masih penasaran dengan kambing Kaligesing untuk bisa mirsani”, seru Kuwatna, Ketua ASPPEG dan kolaborator program, menyambut peserta dan penonton.

“Kami ucapkan terima kasih kepada bolo ngarit semuanya yang ada di wilayah DIY—dari Kulon Progo, dari Sleman, dari Bantul, dan Gunungkidul. Aplaus untuk teman-teman bolo ngarit!”

Momen keakraban antara bapak, anak, dan kambing peliharaannya dalam Kompetisi Rajakaya FKY 2025. (Foto oleh FKY 2025)

Menjelang sore suasana semakin seperti piknik. Anak-anak jajan di Pasaraya Adat, bapak-bapak saling menawarkan rokok, dan obrolan berkelindan tentang kambing unggul dan harga pasarnya. Semilir angin membaurkan aroma prengus kambing dan asap tembakau, menciptakan atmosfer yang khas skena peternakan dan pesta rakyat.

Namun dibalik nuansa kekeluargaan itu, terdapat proses estetisasi yang menarik. Setiap kambing diperlakukan layaknya karya seni: dipoles, di-display, dinilai secara visual, dan difoto bersama pemiliknya. Tiga juri dari PERKKANAS menilai dua belas kriteria: dari postur tubuh, pola warna, surai, hingga keserasian bentuk. Mereka mencatat nilai di ponsel dengan wajah serius, seperti kurator galeri yang sedang bekerja. Di tangan mereka, batas antara peternakan dan seni rupa terasa cair.

Oh, Emerging dan Established!” kelakar Amos Ursia, seorang pegiat seni yang sore itu hadir di Logandeng, menanggapi dua kategori yang dipertandingkan: Bibitan Jantan dan Extreme Jantan. “Kalau soal warna, masuknya ke komposisi seni rupa,” ujarnya tertawa.

Bapak Supriyono Hadi, Bapak Budiyanto dan Bapak Muksin dari PERKKANAS menilai kambing peserta kompetisi. (Foto oleh FKY 2025)

Howard Becker (1982) menyebut bahwa seni selalu ditentukan oleh jaringan sosial yang mengakuinya — art worlds yang memproduksi, menilai, dan memaknai karya. Dalam kerangka itu, Kontes Rajakaya memperlihatkan bagaimana festival bekerja sebagai cultural intermediary: menerjemahkan praktik agraris ke dalam bahasa estetika tanpa melepaskannya dari akar sosialnya.

Ketika kambing diperlakukan secara artistik, festival tidak sekadar memamerkan hewan ternak, tetapi mendefinisikan ulang batas tentang apa yang layak disebut seni. Para peternak berperan layaknya seniman; kambing menjadi medium ekspresi yang mewakili kerja, keuletan, dan kebanggaan.

“Bangga dan sangat hormat pada tim FKY yang sudah mengundang kami,” ujar Kuwatna, ketua ASPPEG. “Terima kasih kepada panitia yang telah memberikan ruang kepada kami. Sebuah kesempatan agar masyarakat bisa melihat langsung kambing Kaligesing, berinteraksi dengan para peternak, dan semoga tidak ada lagi yang malu ngarit atau ngingu. Kita harus bangga dengan hasil keringat sendiri.”

Ucapan itu menyiratkan perasaan diakui: para peternak datang bukan hanya untuk berlomba, tetapi untuk dilihat sebagai bagian dari kebudayaan itu sendiri.

Ketua ASPPEG, Bapak Kuwatna (tengah), dan peternak kambing PE, Bapak Alif Rusbani (kanan), berbagi kisah tentang dunia peternakan dan kambing kontes bernilai ratusan juta dalam sesi Siniar FKY yang digelar bersamaan dengan Kompetisi Rajakaya (Foto oleh FKY 2025).

Dalam obrolan terpisah, Bimo Rosanto, programmer Kompetisi Rajakaya, mengenang momen awal kolaborasi. “Waktu pertama kali kami ajak, mereka kaget—biasanya yang datang kan dari dinas peternakan,” tuturnya. “Mereka sampai bilang, ‘kok kepikiran kebudayaan ada sangkut pautnya dengan peternak?’ Tapi setelah tahu ini festival kebudayaan, mereka semangat: ayo kita buktikan kalau ternak juga bagian dari kebudayaan Jogja.”

Dari percakapan sederhana itu, lahir ide membuat Piala FKY, sebagai simbol penghargaan bagi kerja dan dedikasi peternak. Sebagaimana dicatat Duffy dan Mair (2018), festival membuka ruang pertemuan bagi mereka yang mungkin tak akan pernah bertemu di luar konteksnya: komunitas lokal, seniman, dan pelaku peternakan. Dalam semangat itu, kolaborasi antara FKY, ASPPEG, PERKKANAS, dan warga menciptakan ruang pertemuan tiga dunia: seni, peternakan, dan kehidupan sehari-hari. Dari sinilah lahir pertukaran pengetahuan, jejaring, dan kolaborasi baru—memperluas makna kebudayaan itu sendiri.

Kontes Rajakaya bukan sekadar lomba ternak. Ia menjadi ruang bagi para peternak untuk menegaskan bahwa kerja mereka, dengan segala kesederhanaannya, juga bagian dari kebudayaan. Dari sinilah peran festival terasa nyata—menghadirkan bentuk kerja dan pengetahuan yang sering luput dari sorotan.

Melalui proses kuratorial FKY, rajakaya tidak hanya tampil sebagai objek seni dalam kontes, tetapi sebagai representasi kerja kolektif, keterampilan, dan kebanggaan komunitas. Festival tidak semata-mata hanya memperluas batas seni, melainkan merawat relasi antar-warga yang menopang kehidupan budaya itu sendiri.

Menjelang malam, musik We Are the Champions mengiringi pengumuman pemenang. Satu per satu kambing juara naik ke panggung utama FKY, dan penonton bersorak.

“Inilah hadirin semua, kambing-kambing juara kita,” seru Kuwatna, “dan memang pantas mereka di atas panggung!”

Kambing juara Kompetisi Rajakaya tampil di panggung utama. (Foto oleh FKY 2025)

Mengalami Tradisi di Lokakarya Gunungkidulan

Berbeda dengan pawai dan kompetisi yang menampilkan tradisi sebagai pertunjukan, Lokakarya FKY 2025 mengajak publik untuk mengalami tradisi itu secara langsung. Di sinilah festival berfungsi sebagai ruang belajar partisipatif, tempat generasi muda berjumpa dan merefleksikan hubungan mereka dengan pengetahuan agraris yang masih hidup di Gunungkidul.

Melalui program ini FKY menegaskan perannya sebagai ruang pertemuan edukatif antar generasi. Bila pawai menghadirkan representasi tradisi Gumbregan dalam bentuk kontemporer, dan kompetisi menyoroti ekspresi komunitas peternak dalam bingkai kebudayaan, maka lokakarya mempertemukan publik dengan tradisi Gumbregan dalam bentuknya yang sesungguhnya. Ia membuka akses menuju akar tradisi dan identitas agraris yang tetap dijaga masyarakat hingga hari ini.

Suasana pelaksanaan tradisi Gumbregan di Wiladeg dengan berbagai tampah berisi ubo rampe hasil bumi, nasi bancakan,dan lauk-pauk. (Foto oleh FKY 2025)

Lokakarya Gumbregan digelar di Padukuhan Kenteng, Kalurahan Wiladeg, bertepatan dengan wuku Gumbreg—hari yang dalam penanggalan Jawa dipercaya membawa keselamatan bagi ternak. Penentuan waktunya pun mengikuti kalender adat, bukan jadwal festival. “Harapannya peserta bisa benar-benar ngerasain tradisi yang nggak dibuat-buat, apa adanya di masyarakat,” ujar Reya, programmer Program Publik FKY 2025.

Sore itu, sekitar lima puluh peserta berkumpul di rumah warga pemilik ternak untuk mengikuti prosesi Gumbregan. Warga dari empat dusun datang membawa beragam ubo rampe hasil bumi seperti krowotan—ketela, uwi, serta ketupat, ketan, nasi bancakan, dan lauk-pauk. Upacara dipimpin oleh Suko Rahmadi, kamituwo Wiladeg. Setelah perkenalan singkat, ia memimpin doa dengan parikan—pantun sahut-menyahut dalam bahasa Jawa yang berisi doa keselamatan untuk ternak agar sehat, cepat besar, dan berkembang biak.

Pak Suko Rahmadi bersama Pak Dukuh dan Ketua Desa Budaya berbagi cerita tentang asal mula tradisi Gumbregan. (Foto oleh FKY 2025)

“Kembang tebu, kembang nangka. Sapine lemu-lemu, warganya suka-suka” seru Pak Suko, disambut lantang “Aamiin!” oleh para peserta. “Yang gayeng itu pas parikan-nya,” cerita Reya, “Ibu-ibu sampai nunggu momen itu buat berbalas pantun.”

Ritual berlanjut dengan menyuapi ternak dengan krowotan—ketela, uwi, dan hasil bumi lainnya—kepada hewan ternak sebagai bentuk kasih sayang. Prosesi ditutup dengan makan bersama sebagai wujud syukur atas hasil bumi dan keselamatan hewan peliharaan. “Ulang tahun ternak,” begitu istilah sederhana yang digunakan Pak Suko untuk menjelaskan prosesi Gumbregan kepada anak-anak agar lebih mudah dipahami. 

Prosesi menyuapi sapi sebagai bagian dari tradisi Gumbregan di Wiladeg. (Foto oleh FKY 2025)

Tradisi ini menjadi ruang syukur dan kebersamaan. “Gumbregan ini tuh nggak cuma orang yang punya sapi aja yang ngerasain rezeki dan bahagia” ujar Reya, “tapi anak-anak kecil yang orang tuanya belum tentu punya Rajakaya  juga ikut kumpul. Semua makan bareng.” 

Dari total peserta, tiga belas diantaranya merupakan pelajar yang diundang untuk datang bersama guru pendamping. Ada juga peserta umum melalui mekanisme open call. Menurut Reya, pendekatan ini sengaja dipilih agar publik luas—terutama generasi muda—dapat mengalami langsung tradisi yang hidup di masyarakat. Sebagian pelajar yang terlibat berasal dari wilayah sekitar Wonosari dan Tanjungsari—daerah yang kini mungkin tidak lagi akrab dengan kehidupan ternak di sekitarnya.

“Misiku itu biar anak-anak sekolah paham bahwa di daerahnya ada hal semacam ini,” ujar Reya. “Tradisi yang dilakukan tanpa paksaan, natural, dikerjakan bersama. Kalau bukan dari keluarga yang masih memiliki ternak, belum tentu anak-anak tahu Gumbregan. Padahal ini tradisi yang bisa merangkul semua pihak.”

Antusiasme sejumlah pelajar mengikuti Lokakarya Tradisi Gumbregan di Wiladeg (Foto oleh FKY 2025)

Bagi sebagian peserta, pengalaman ini menjadi perjumpaan pertama dengan tradisi agraris yang masih dijalankan warga. “Aku belum pernah, sama sekali. Baru pertama kali ikut,” ujar Sonde, koordinator lapangan asal Gunungkidul. “Anak-anak sekolah juga kaget, ternyata seperti ini. Ada sahut-sahutan, bancakan-nya banyak, ramai sekali. Di tempat mereka biasanya cuma kenduren biasa,” tambahnya.

Melalui pengalaman langsung ini, peserta tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut mengalami dan belajar dari tradisi yang selama ini mungkin terasa jauh dari kehidupan mereka. Lokakarya FKY mewujudkan festival sebagai ruang partisipatif, di mana place, community, identity, and belonging dinegosiasikan dan dialami secara nyata (Duffy & Mair, 2021). Melalui pendekatan yang interaktif dan partisipatif, lokakarya menjadi ruang belajar bersama—mempertemukan masyarakat, pelajar, dan praktisi budaya dalam proses saling berbagi pengetahuan. Di sanalah FKY bekerja menghadirkan ruang belajar lintas generasi, tempat identitas Gunungkidulan dinegosiasikan, dihidupi, dan diwariskan.

Membaca Peran Festival, Mencermati Kerentanan Pekerja Budaya

Refleksi peserta Pawai Rajakaya yang mengenakan pakaian adat pada kolam desinfeksi di Pasar Hewan Siyono Gunungkidul. (Foto oleh FKY 2025)

Melalui keterlibatan di FKY, saya menemukan wajah lain dari festival: bukan sekadar platform ‘Industri budaya’ maupun ‘ekonomi kreatif’, melainkan sebuah infrastruktur sosial — sebuah mekanisme penciptaan makna dimana masyarakat ikut menegosiasikan apa yang dianggap bagian dari objek dan subjek kebudayaan.

FKY, yang pertama kali digelar pada 1989 sebagai Festival Kesenian Yogyakarta, kini menjadi laboratorium kebudayaan yang berkeliling di empat kabupaten dan satu kota di DIY dalam roadmap lima tahunan. Pendekatan desentralistik ini memungkinkan festival menyoroti kerja budaya yang berakar dari keseharian masyarakat setempat.

Dalam konteks ini, Rajakaya sebagai studi kasus memperlihatkan bagaimana festival bekerja memediasi antara tradisi dan kontemporer, antara ekspresi rakyat dan wacana adiluhung, antara ruang desa dan ruang kota. FKY membuka kemungkinan bagi warga dan seniman untuk terlibat dalam bentuk partisipasi yang tidak seragam: ada yang hadir sebagai peserta, ada yang datang sebagai penonton, dan ada pula yang menjadikan festival sebagai kesempatan untuk membaca ulang perubahan sosial di sekitar mereka.

Namun dibalik kemeriahan Festival dan semangat perayaan Rajakaya sebagai simbol kemakmuran dan daya hidup, terdapat paradoks yang penting dicermati: kerentanan pekerja budaya yang menopangnya. Berbeda dengan festival kedinasan lain yang dananya dikelola oleh birokrat dan vendor, pada FKY dana publik dikelola langsung oleh seniman, pekerja budaya, dan pekerja kreatif. Pola ini memungkinkan otonomi artistik, namun sekaligus menempatkan mereka pada posisi rentan. 

Festival dengan signifikansi publik yang kuat dan tidak berorientasi keuntungan memang sepatutnya dijalankan dengan dana publik. Namun dalam praktiknya, skema pendanaan kerap menimbulkan tantangan tersendiri. Dana publik yang cair belakangan dan mekanisme reimbursement yang rigid membuat penyelenggara kerap menanggung beban produksi demi keberlangsungan festival. Ketiadaan badan hukum tetap juga menyulitkan penyelenggara untuk menjajaki bauran sumber dana lain di luar anggaran pemerintah, sehingga ketergantungan terhadap dana publik semakin tinggi.Situasi semacam ini menunjukkan bagaimana kebijakan pendanaan publik seringkali belum sepenuhnya memahami karakter kerja budaya yang cair dan relasional.

Di hadapan realitas ini, kerja budaya sering kali dirayakan sebagai dedikasi dan kecintaan. Namun di baliknya, ada kerja yang nyata—waktu, tenaga, dan pikiran—yang layak dihargai sebagaimana profesi lainnya.

Dalam pidato penutupan, direktur FKY 2025 BM Anggana menyebut satu per satu nama panitia—sebagai gestur terima kasih atas dedikasi individu sekaligus kritik terhadap sistem pendanaan yang belum berpihak pada pekerja budaya. Kerja festival adalah affective labor (Gill & Pratt, 2008): kerja cinta yang menopang kebudayaan, tetapi cinta tidak terbayar tepat waktu dapat berubah menjadi kelelahan.

Jika Rajakaya dimaknai sebagai simbol kemakmuran, maka kesejahteraan pekerja budaya semestinya menjadi bagian darinya — makmur bukan hanya secara simbolik, tetapi juga material.

Prosesi penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) “Nandur Donga, Ngrumat Kajat” doa bersama sebagai ungkapan rasa syukur atas kelancaran festival. (Foto oleh FKY 2025)

Merawat Rajakaya Kebudayaan 

Kebudayaan adalah Rajakaya Yogyakarta hari ini. Ragam ekspresinya adalah sumber penghidupan yang perlu dirawat dan dikelola guna mewujudkan kesejahteraan melalui pelestarian tradisi, penciptaan artistik dan pemanfaatan berkelanjutan.

Melalui program publik bertema Rajakaya—dari pawai, kompetisi, hingga lokakarya—Festival Kebudayaan Yogyakarta menunjukkan kepekaannya dalam menangkap bentuk ekspresi sehari-hari yang sering luput dari bingkai ‘seni’ dan ‘budaya’. Dengan cara itu, FKY menempatkan simbol agraris, peternakan, dan ritual sejajar dengan ekspresi artistik, memperluas cara kita memahami apa yang layak dirayakan sebagai ekspresi kebudayaan. 

Festival Kebudayaan Yogyakarta bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga ruang partisipasi — tempat seni, masyarakat, dan ekonomi budaya bertemu dalam satu ekosistem yang dinamis. Sebagai laboratorium budaya, FKY berfungsi ganda: kerangka acuan sekaligus lahan eksperimental bagi masyarakat, seniman, dan pekerja budaya untuk memastikan kebudayaan terus hidup dan berkembang.

Di tengah keberlimpahan makna itu, kesejahteraan para pekerja budaya tidak boleh diabaikan. Merawat pekerja budaya berarti merawat rajakaya itu sendiri—aset hidup Yogyakarta hari ini.



Tentang Penulis:

Ashari Ariya adalah Redaktur Website FKY 2025 dan lulusan Master of Cultural and Creative Industries, Monash University, Australia. Ia bertanggung jawab atas produksi dan diseminasi pengetahuan di kanal website, khususnya melalui rubrik warta. Tahun 2025 menjadi tahun pertamanya terlibat dalam gelaran kebudayaan ini.