Kabar
Bertamu dan Bertemu, Merawat Memori Kolektif dalam Gelaran Olah Rupa
Bangunan itu seperti tong setan. Begitulah yang terlintas setiap kali pandangan saya jatuh pada bangunan melingkar di tengah keramaian itu. Ia berdiri di antara deretan tenda di sebuah lapangan terbuka, tempat ratusan bahkan ribuan orang berlalu-lalang. Namun kesan itu segera sirna, tersapu tulisan di depan pintu masuk: bangunan ini adalah tempat bertengger banyak karya seni.
Sejak pertama dibuka pada Jumat (10/10) hingga penutupannya, Sabtu (18/10), kesan itu masih saja lekat. FKY 2025 berhasil menyulap Lapangan Desa Logandeng menjadi sebuah pasar malam. Aneka jajanan tersaji—mulai dari bakwan Kawi, sate kronyos, hingga kerak telor khas Betawi. Penjual mainan juga melapak: kapal otok-otok, kelomang, boneka tung-tung sahur, semua ada.
Tempat ini juga sekaligus taman hiburan. Warga masyarakat bisa asyik menonton pertunjukan panggung FKY 2025 yang tiap malam bergulir, penampilnya pun bergilir. Bapak-bapak bisa dapat kawan ngopi ketika tak sengaja bertemu tetangganya yang kebetulan juga sedang di sana. Beberapa orang tua mungkin mendapat bonus senam kardio karena harus mengejar anak mereka yang berlarian ke sana-kemari. Anak-anak sibuk mencari taman bermain: Ada yang lari-larian di atas rumput, ada yang melukis, ada pula yang mancing di arena pancing anak.
Alih-alih seperti festival di kota-kota, hingar-bingar FKY 2025 lebih menyerupai pasar rakyat dengan panggung pertunjukan. Masyarakat datang dengan pakaian sederhana—Kaus berlapis jaket, celana panjang, dan sarung yang disampirkan pada tubuh layaknya orang berangkat ronda. Bedanya dengan pasar malam pada umumnya, festival ini tak menghadirkan hiburan seperti bianglala atau kora-kora.
Di tengah hingar-bingar itu, berdiri satu bangunan yang mencuri perhatian. Ia tersusun dari perancah besi yang berjajar melingkar, dengan kain persegi panjang warna-warni menutupi tiap sisinya. Melingkupinya bak tembok yang dicat meriah. Di pasar malam, bangunan semacam itu biasanya adalah tong setan—dengan suara bising motor yang memekakkan telinga ketika melaju di dinding melingkar. Bayangan suasana itulah yang menautkan pikiran saya pada tong setan ketika melihat bangunan Gelaran Olah Rupa.
Gelaran Olah Rupa merupakan kelanjutan dari program Residensi bertajuk Pekan Sowan, salah satu program Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025 yang berupaya menjembatani pertemuan antara seniman Gunungkidul dan Yogyakarta. Selama satu pekan, para seniman sowan ke Gunungkidul untuk silaturahmi, melakukan riset, dan ngangsu kawruh—bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada alam.
Namun, sekali lagi, itu hanya kesan awal yang segera buyar saat saya melangkah masuk ke ruang gelar karya tersebut. Di bagian dalam, terpajang berbagai karya seni dari seniman kolaborator Yogyakarta dan Gunungkidul. Acara ini melibatkan: Ikatan Perupa Gunungkidul x Nabila Rahma & Tiang Senja di lokus Giring; Sibagz x Vendy Methodos di lokus Ponjong; Trah Sekar Jagat x Reza Kutjh di lokus Girisekar; Raden Kukuh Hermadi x Titik Kumpul Forum di lokus Pathuk; Mbah Bambang & Mbah Saido (Tokoh Adat di Tepus Gunungkidul) x Survive! Garage di lokus pantai Siung; Endry Pragusta x Arief Mujahidin di lokus Logandeng; Lumbung Kawruh x A.O.D.H di lokus Petir; RESAN Gunungkidul x M Shodik di lokus Playen; dan Ibu-ibu KWT Ngalang x Kolektif Matrahita di lokus Ngalang.
Seperti tong setan, hanya saja yang melingkari ruangan itu bukan motor, melainkan karya-karya yang berjajar. Di tengahnya berdiri satu balok segi sepuluh. Tiap sisinya menampilkan lokasi residensi yang dijalani oleh para seniman. Agung Leak, yang sempat berkunjung ke arena gelaran, menyebut balok tersebut sebagai “menara panoptikon dengan teve yang alpa menyala,” tulisnya di takarir unggahan Instagramnya.
Saya berjalan memutari area gelaran olah rupa yang tampak tak begitu luas karena penuh sesak oleh karya dan pengunjung dari berbagai kalangan. Berjalan di sela-sela pengunjung sambil memandangi satu persatu karya. Rasa heran menyeruak ketika melihat karya-karya itu masih setengah jadi. Kenapa? Apakah waktu yang diberikan panitia terlalu mepet?
Karen Hardini, kurator Gelaran Olah Rupa, menyebut bahwa hal itu memang disengaja. Ia bahkan mewanti-wanti agar seniman tidak menampilkan karya final. “Semangatnya adalah estetika berproses. Tidak ada karya selesai di sana,” jelasnya.
Perempuan berkacamata itu juga menyebut bahwa nalar dari pameran ini adalah sowan atau pertemuan. Sebuah pertemuan sejatinya adalah upaya untuk saling mengenal lebih dalam antara satu sama lain.
Bertamu dan Bertemu
Salah satu ejawantah dari nalar pertemuan adalah upaya para seniman untuk merawat kembali memori kolektif masyarakat Gunungkidul. Beberapa karya seni nampak mengarah ke situ. Saya memulai perjalanan menikmati karya dengan berbelok ke kiri. Hal pertama yang saya temui adalah karya Lajon oleh Raden Kukuh Hermadi x Titik Kumpul Forum di lokus Pathuk.
Tiga kain bagor tergeletak di atas meja putih. Pada hari pertama, hanya ada sketsa kasar terlukis padanya. Menariknya, sketsa awal itu sudah terbaca jelas: orang-orang menaiki motor, melewati jalanan berkelok dengan laju yang kencang. Gambaran itu merepresentasikan kata lajon—sebuah istilah yang akrab di masyarakat Gunungkidul untuk menyebut seseorang yang pulang-pergi dari rumah menuju tempat tertentu dengan menempuh jarak yang jauh.
Saya menikmati karya ini. Secara visual, ini mengingatkan saya pada komik Si Juki karya Faza Meonk—jenaka, tapi dengan nada satire. Pada karya Kukuh, kelucuan itu berubah menjadi sindiran. Lajon menjadi penanda ketimpangan persebaran ekonomi: masyarakat harus lajon, untuk menyesuaikan diri dengan pembangunan yang semakin merangsek ke kehidupan mereka. Cara hidup berubah perlahan, namun menghujam jati diri. Mereka terpaksa melaju dengan cepat, hingga tergambar satu motor yang ditunggangi empat orang yang kelabakan tersapu angin—saking lajunya.
Tak jauh dari situ, pandangan saya langsung tertuju pada satu perempuan muda yang sedang duduk dikelilingi anak-anak. Mereka memegang tanah liat, tampak asyik membentuk sesuatu. Ternyata mereka membuat alat musik tiup. Salah satu anak tampak antusias sekaligus geli memegang tanah liat. “Sini, tiup aja. Kamu geli megangnya kan? ” ucap Nabila Rahmah, seniman keramik asal Yogyakarta, sambil memegang tanah liat yang mulai terbentuk dan siap tiup.
Tanah liat itu menjadi bagian dari karya yang dihadirkan Nabila. Beberapa yang telah jadi digantung pada sebuah instalasi berbentuk rumah kecil dari kayu. Pertama kali melihatnya, otak saya macet. Sebuah miniatur rumah bersusun kayu digantungi alat tiup dari tanah liat—apa maksudnya?
Kebingungan saya bertambah ketika anak-anak itu ternyata duduk di sebelah karya instalasi yang lain: kuburan dengan tiga gelu besar. Gelu adalah tanah liat yang digunakan untuk menopang jenazah agar tetap menghadap kiblat. Karya ini terinspirasi dari tiga amal yang tak akan pernah terputus meski manusia mati: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak saleh.
Sebuah karya wayang beber menghubungkan kedua instalasi itu. Kain putih terbentang memanjang dari satu titik dan berakhir di kuburan. Ia menggambarkan sebelas fase yang dilalui oleh manusia, yang diambil dari sebelas tembang macapat. Jarak keduanya yang berdekatan seakan memberi isyarat bahwa jarak antara kehidupan dan kematian tidaklah jauh. Seolah tak ada jarak yang signifikan antara anak-anak dan peristiwa kematian.
Pertanyaan dan kegamangan saya akhirnya terjawab oleh cerita Nabila. Saat residensi ia sempat terkejut mengetahui kolaboratornya adalah adalah para seniman yang usianya dua hingga tiga kali lipat dari dirinya. Artinya akan ada gap pengetahuan yang terasa. Pola komunikasi pun perlu disesuaikan.
Nabila dan Tiang Senja menjalani pekan sowan dengan bersilaturahmi terus-menerus bersama Ikatan Perupa Gunungkidul. Mereka diajak berkeliling, baik ke rumah warga, maupun alam di sekitar lokus. Mereka memasuki kebun, gua, dan sungai, sembari bertukar pikiran dan menyelami tema residensi tentang tanah, batu, dan hutan adat. Proses bertamu dan bertemu itulah yang kemudian mengilhami karya mereka.
Para Perupa Gunungkidul, yang kebanyakan berusia matang, merefleksikan bahwa manusia sejatinya bukan apa-apa di hadapan alam. Refleksi ini mengingatkan mereka pada tembang macapat, sebuah sistem pengetahuan yang menubuh dalam laku hidup sehari-hari. Sebuah gugus berisi kriteria yang menandai fase hidup dan memandu bagaimana seseorang menjalani suluk kehidupannya.
Sebaliknya, Nabila lebih berfokus pada ekologi. Ia menyoroti satu daur alam yang jarang disadari manusia—bahwa alam turut mengalami siklus hidup, hanya saja dengan ritme yang lebih lambat. Alam menjadi saksi seluruh peristiwa manusia sepanjang zaman. “Namun alam tak bisa berbicara,” ujar Nabila. “Jadi saya meminjam alam, membuat bagian dari alam agar bisa terdengar.”
Narasi itu dirajut dalam satu bingkai, bahwa alam dan manusia sama-sama memiliki siklus hidup. Proses bertamu dan bertemu itu melahirkan karya yang sakral, penuh makna, sekaligus ramah bagi anak-anak.
Merawat Memori Kolektif
Perjalanan saya kemudian sampai pada deretan teks yang tertulis rapi di sebuah sudut. Teks ini bukan catatan kuratorial, bukan pula deskripsi karya, melainkan karya naratif berisi kisah di balik tema yang diangkat. Cerita itu bertajuk “Sepenggal Cerita Wahyu Gagak Emprit” karya Trah Sekarjagad yang berkolaborasi dengan Reza Kutjh.
Saya membacanya dengan tenang. Kisah dimulai ketika para seniman mengunjungi warga Giri Sekar untuk mencari informasi mengenai Pertapaan Kembang Semampir yang kini lebih dikenal sebagai Pertapaan Kembang Lampir. Alkisah, Sultan Agung, Raja Mataram Islam, sedang menapaki laku pertapaan kakeknya, Panembahan Senopati di Gunung Mahenoko. Setibanya disana, Sultan Agung lantas nyampirke (meletakkan) untaian bunga. Sejak itu, tempat tersebut dikenal sebagai Kembang Semampir, yang dalam bahasa Indonesia berarti Bunga yang Diletakkan.
“Namun entah kenapa. Mungkin karena lidahnya terpeleset, dari semampir menjadi lampir. Akhirnya sampai hari ini dikenal Kembang Lampir,” terang Hasto, salah seorang seniman Trah Sekarjagad.
Kisah lain menuturkan tentang wahyu Gagak Emprit. Legenda mengatakan barang siapa mendapatkan wahyu ini, anak keturunannya akan menjadi raja di Mataram Islam. Suatu hari, dua orang kakak beradik, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring, mendapat isyarat bahwa mereka mendapatkan wahyu Gagak Emprit. Dalam mimpinya, Ki Ageng Giring mendapat perintah untuk mencari pohon kelapa yang menjulang tinggi, menghadap barat daya, dan berbuah satu. Ia akan mendapatkan wahyu tersebut jika dapat meminum air kelapa muda itu dalam sekali tegukan.
Pencariannya berhasil, dan kelapa itu kemudian dibawa pulang. Namun Ki Ageng Giring merasa belum sanggup meminumnya dalam sekali teguk. Ia harus merasa haus sebelum meminumnya. Ia kemudian pergi berkeliling mencari aktivitas yang sekiranya dapat membuatnya haus tak tertahankan.
Ketika Ki Ageng Giring pergi, Ki Ageng Pemanahan tiba di rumah yang kosong. Ki Ageng Pemanahan mencari-cari saudaranya, namun ia tak menemukan apa-apa kecuali kelapa muda milik Ki Ageng Giring. Karena sangat haus, Ki Ageng Pemanahan pun meminum air kelapa muda itu hingga habis dalam sekali tegukan.
Setelah melakukan aktivitas di ladang, Ki Ageng Giring pulang mengantongi rasa haus. Namun ia tertegun mendapati kelapa muda itu habis diminum oleh saudaranya sendiri. Ia terdiam dengan perasaan sedih yang mendalam. Untuk menenangkan diri, Ia berjalan ke tepian sungai. Air matanya menetes, dan berkat kesaktiannya, tetesan itu melubangi batu. Sejak saat itu, batu itu disebut Kali Gowang—dari bahasa Jawa berarti sungai yang batunya berlubang.
Setelah hatinya tenang, Ki Ageng Giring lalu menyampaikan kepada saudaranya bahwa kelapa muda yang ia minum itu berisi wahyu Gagak Emprit. Sejak saat itu pula, trah mataram Islam berasal keturunan Ki Ageng Pemanahan.
Kisah ini kemudian divisualisasikan melalui karya lukis. Empat lukisan yang menggambarkan salah satu adegan dalam kisah wahyu Gagak Emprit tampak apik. Gaya klasik yang diangkat mengingatkan saya pada komik Mahabarata karya RA Kosasih. Namun visualisasi itu tak sama sekali mengganggu imajinasi saya. Karya visual itu justru memperkaya gambaran di kepala saya tentang kisah tersebut. Sama seperti lajon karya Kukuh, lukisan ini belum sepenuhnya jadi. Setiap hari Hasto memoles dan menyempurnakannya.
Hasto mengaku awalnya ia dan Reza Kutjh agak keberatan dengan tema arsip sejarah yang ditawarkan oleh program. Ia menilai sejarah adalah sesuatu yang tak main-main. Keduanya merasa khawatir jika sejarah yang diolah tidak sepenuhnya valid. Maka tema itu kemudian mereka maknai ulang sebagai upaya merawat memori kolektif. “Kami larikan ke sebuah cerita yang bersumber dari narasumber setempat,” jelas Hasto.
Semangat merawat memori kolektif ini juga tampak dari bagaimana Reza Kujth, seniman fotografi asal Yogyakarta, memotret setiap proses yang dijalani bersama Trah Sekarjagad. Ia menampilkan foto-foto situs, perjalanan menuju situs, serta situasi situs. Batu, kayu, dan pohon juga tak luput dari tangkapan lensanya.
Setelah berkeliling melihat berbagai karya lain, kepala saya menjadi riuh. Bukan oleh percakapan orang-orang maupun tawa anak kecil yang asyik merespon karya, melainkan oleh pertanyaan-pertanyaan yang mengepung kepala saya. Membuat telinga ini tak dapat mendengar suara orang-orang di sekitar. Persis seperti pengalaman pasca menonton tong setan yang membuat kuping saya budek sementara.
Seperti yang ditulis Acep Iwan Saidi dalam Narasi Simbolik Seni Rupa Indonesia, bahwa seni rupa tak hanya membidik mata, tapi juga isi kepala. Proses bertamu dan bertemu ini melahirkan banyak sekali respon, termasuk bagaimana merawat memori kolektif. Dalam konteks ini, akrobat karya yang ditampilkan “tong setan” bernama Gelaran Olah Rupa itu tepat mengenai kepala saya. Membuatnya berdengung, bahkan hingga hari ini.

