Kabar
Blek-Blek-Thing, Alamku Hilang Digondol Buto Pembangunan
“Blek-Blek-Thing… Blek-Blek-Thing,” suara melengking. Teriakan histeris pun riuh terdengar dari kejauhan. Sambil memukul-mukulkan dua bilah tembikar dan dua lempengan besi satu sama lain, beberapa orang mengelilingi pantai cekung berdinding tebing batuan kapur itu. Mimik muka mereka tegang dan kebingungan. Di tengah keramaian pengunjung pantai, mereka lalu berjalan menyusuri tiap sudut, seakan sedang mencari sesuatu yang hilang.
Menurut tradisi daerah Gunungkidul, bunyi suara itu selalu mengiringi upaya masyarakat ketika sedang mencari anak yang hilang diculik wewe gombel. Namun, kali ini sekumpulan itu tidak sedang mencari anak hilang. Mereka mencari alam, angin, pohon, udara, pasir, dan batu yang tiba-tiba raib dari kehidupan mereka, digondol oleh sejenis makhluk halus bernama pembangunan yang menjelma dalam peradaban.
Mereka adalah merupakan performer Sandiswara, kolaborasi antara seniman lokal dan internasional. Diantaranya Random Trigger (Taiwan), Per.Platform (Hongkong), Enji Sekar (Indonesia), Esty Wika Silva (Indonesia), dan Sanggar Oyod Ringin (Indonesia), ditambah tampilan dari komunitas Sekar Sela dan Gegerboyo dari Gunungkidul. Gelaran pertunjukan ini berlangsung di Pantai Baron, Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul pada Minggu (12/10), sejak pukul 13.30 hingga sore hari.
Sandiswara menjadi salah satu program FKY 2025, yang mempertemukan seniman internasional dengan seniman Yogyakarta dan Gunungkidul melalui kegiatan residensi. Selama dua minggu, para seniman melakukan riset, mengelilingi Gunungkidul, mulai dari mendatangi ritual pembukaan Cupu Panjala, berkunjung ke Kampung Pitu, hingga masuk ke hutan adat Wonosandi.
“Babad Watu” oleh Sekar Sela dan Gegerboyo menjadi gelaran pembuka Sandiswara. Keduanya memberi sajian tentang munculnya padi di Gunungkidul, yang dibawa oleh Dewi Sri. Lantunan Shalawat langgam Jawa memandu siapapun yang hadir di pantai itu untuk menghantarkan pujian kepada Tuhan dan alam, atas karunia yang diberikan, berupa bumi dan segala yang tumbuh di atasnya.
Ketika melihat oleh gejog lesung, gambaran mengenai etika gotong royong dan kerja keras nampak jelas. Lima perempuan memegang gejog, memukulkannya pada satu lesung. Ketukan itu rapih, membentuk satu irama yang padu. Panen yang melimpah ruah disambut rasa syukur mendalam. Gejog lesung untuk memisahkan padi dari kulitnya, diubah bak orkestra kebahagiaan ketika diiringi oleh tarian-tarian itu.
Setelah itu, proses tasyakuran dilakukan. Segerombolan bapak-bapak, dipimpin oleh satu pemuka, melantunkan doa secara bersama-sama. Mensyukuri turunnya berkah dan menolak mara bahaya yang dapat saja muncul dari segala arah dan penjuru mata angin. Namun, semua itu berubah tatkala buto-buto datang membawa slogan pembangunan.
“Gunungkidul hari ini adalah batu yang terus ditambang atas nama wisata, kemajuan, dan kesejahteraan. Para pemodal, para pengusaha datang seperti buto-buto yang nggragas ingin merenggut tubuh ayu Dewi Tiksnawati. Raksasa-raksasa yang kemaruk ingin meng-udal-udal alam dan kekayaan budaya,” tutur Narator.
Pembersihan Diri yang Letih
Ketika alam mulai hilang, Jevi Adhi Nugraha sebagai narator, muncul di atas panggung. Persis di seberang, Marang Panay, seorang dukun dari Taiwan, melafalkan mantra-mantra sambil berjalan menuju latar kosong di belakang kursi penonton. Di tengah altar itu dia berdiri. Ia mencoba berbicara dengan para roh dan seolah sedang bertanya “dimanakah alam berada?”
Enji sekar lalu datang menghampirinya mengenakan setelan batik yang anggun. Gerakannya lembut dan gemulai. Warna merah menyala dari kebayanya. Mungkin ia adalah jelmaan salah satu roh penuntun yang mencoba menjawab pertanyaan Panay. “Sisih kidul ana Gurem,” ujar Enji yang melantunkannya melalui tembang. Tembang ini diambil dari tafsir para tetua adat atas guratan-guratan yang muncul pada kain pembungkus Cupu Panjala, yang dibuka pada Selasa Kliwon (2/10).
“Blek-Blek-Thing… Blek-Blek-Thing,” beberapa orang membunyikan alat-alat mereka di pinggiran altar, mengitari Panay. Gerakan mereka acak. Teriakan histeris mereka memanggil-manggil alam yang hilang di tengah bangunan altar itu. “Alam, tanah, air, udara, batu” suara-suara itu saling beradu dan menyayat hati. Mereka kehilangan bagian dari diri mereka. Pencarian lalu dimulai. Para pembawa tembikar turun dari altar, mengajak seluruh pengunjung pantai lain yang sedari tadi memandangi mereka dengan penuh keheranan untuk berkeliling.
Salah satu sudut diisi oleh Stella Jiang, seniman asal Taiwan. Ia duduk di bawah pohon, memegang ember merah dan papan cucian. Tali jemuran terikat di antara pohon yang ia duduki dengan pohon di seberangnya. Tepat di atasnya terdapat sobekan kardus bertulis “Tuliskan pengakuanmu, aku akan mencucinya untukmu”.
Satu persatu para pengunjung diajak untuk menuliskan pengakuan mereka masing-masing. Seorang perempuan muda maju, ia menulis pada kertas yang telah disediakan Jiang. Tulisannya berbunyi “Sebenarnya aku dilarang jadi penari”. Ia baca tulisan itu keras-keras dan lalu kertas itu diletakkan pada papan cucian. “Gapapa…Gapapa… It’s okay… It’s okay” ucap Jiang lembut sambil menggerus kertas perempuan itu menggunakan batu.
Ucapan itu begitu dalam, disertai senyuman yang begitu tulus dari Jiang. Senyuman itu merambat dengan hangat, masuk melalui celah-celah dinding bahasa dan aksara, memeluk hati perempuan itu erat-erat. Perempuan itu lantas ikut tersenyum dalam. Ia perlahan mundur, mempersilahkan pengunjung lain untuk turut merasakan ketika pengakuan terdalam diri kita diterima dengan sepenuh hati, bahkan oleh orang yang belum kita kenal sebelumnya, tanpa perantara bahasa. Suara goresan batu itu mungkin menyiksa telinga dan menyayat hati. Namun, damai langsung menyeruak begitu proses pembersihan diri selesai.
Tak jauh dari Jiang, Milla Lee, seniman Taiwan pula, memegangi papan hitam bertuliskan “Perasaan apa yang mengganggu di hatimu yang ingin kamu ceritakan”. Sampai pada pos Lee, satu persatu pengunjung menuliskan hal-hal yang mengganjal dalam hati mereka. Salah seorang penonton laki-laki maju ke papan hitam yang lebih besar di samping Lee. Ia menulis “Bagaimana pohon diam saja ketika dia mulai kesepian”. Ia membacanya dengan berteriak kesal. Tampaknya ganjalan itu begitu besar.
Lee lantas menyodorkan gayung, memintanya untuk mengambil air dan menuangkannya pada plastik transparan besar. Sebanyak apa pun ia menuang, sebanyak itulah perasaan itu membebani hatinya. Ia menuangkan begitu banyak, tanda bahwa narasi itu begitu menyesaki dadanya.
Tak lama, air itu memenuhi plastik. Coret-coret berisi beban hidup juga penuh, saling berdesakan pada papan itu. Langkah pertama yang dilakukan Lee, adalah membawa sekantong air yang berat itu. Susah payah ia mengangkatnya. Plastik itu pun sempat jatuh dan bocor. Tapi, ia tetap terus berusaha mencegah air itu keluar hingga ia berhasil membawanya ke tepi pantai dan kemudian melarungnya ke laut.
Sesampainya di tepian sungai bawah tanah yang menjadi pemisah antara pulau dan pasir pantai, seniman itu langsung saja merebahkan diri. Beban-beban itu ia larungkan, turut hanyut bersama aliran air. Sebagian mengenai tubuhnya. Membuat efek beban yang sangat berat pada dirinya. Memang itu yang ia inginkan, membantu siapapun yang ingin menghilangkan riak-riak yang mengotori hati, meski ia sendiri harus tersiksa dengan hal itu.
Usai beristirahat sejenak, ia lalu kembali pada papan-papan hitam. Kali ini, ia memikulnya, menyeberangi sungai bawah tanah. Papan itu begitu besar hingga sesekali tubuhnya terseret dihantam arus air. Tapi ia tak menyerah. Ia terus bejalan, menuju proses pembersihan diri terakhir, yaitu membasuh tulisan-tulisan itu di ujung pantai.
Kevin Ling, seniman Hongkong, tampak asyik menikmati bak mandinya. Persis di belakang panggung, ia duduk di atas bak mandi mini ukuran anak-anak sambil bermain-main dengan sabun yang memenuhi seluruh tubuhnya. Orang-orang mengerubunginya dengan muka yang kembali heran. Namun, di balik keheranan itu, mereka ikut tersenyum, merasakan keriangan dalam proses pembersihan diri yang dilakukan oleh Ling, seolah diajak kembali menuju masa kanak-kanak yang polos dan lugu, yang selalu membuat gelembung sabun di tangan ketika mandi.
Perjalanan pembersihan diri memang sangat melelahkan. Buto-buto peradaban tidak diam. Mereka terus bekerja, membisik-bisik pada hati manusia, bahwa hanya dalam pembangunan, manusia akan sejahtera. Bahwa proses pencarian alam adalah satu hal yang konyol dan sia-sia. Dan tampaknya buto itu berhasil. Meski banyak pengunjung pantai yang turut serta melakoni serangkaian proses pencarian alam, lebih banyak lagi dari mereka yang abai begitu saja. Namun, alam tetap harus dicari. “Blek-Blek-Thing… Blek-Blek-Thing”.
Melepas Ikatan, Menyatu dengan Alam
Para performer dan beberapa penonton yang bertahan dari letihnya pembersihan diri kembali berjalan menuju pantai. Sebagian dari mereka gugur dilahap buto peradaban, hingga memilih untuk meninggalkan perjalanan yang seolah tanpa ujung ini.
Mengenakan pakaian serba hitam, Wong Sin, performer asal Hongkong, berada di gua kecil yang terletak di kanan jalan sebelum menyeberangi pantai. Tubuhnya terikat oleh selang bening, terlentang dalam posisi kepala di tangga bawah dan kaki di tangga atas. Susah payah ia mencoba keluar dari gua peradaban itu, menuju realitas sejati, yaitu hamparan alam yang terbentang. Dengan posisi itu pula, ia menuruni tangga. Tali selang yang melilitnya seolah enggan melepasnya, memaksanya untuk tetap tinggal dalam gua yang gelap.
“Duh, Gusti” peranjat seorang ibu-ibu ketika melihat kondisinya itu yang baginya cukup memprihatinkan. Proses ini tentunya tak main-main. Wong Sin berhasil menunjukkan hasil latihan olah tubuhnya. Bahkan ia menarik perhatian cukup banyak pengunjung yang keheranan melihat apa yang ia lakukan.
Sesampainya di ujung tangga, ia melepaskan tali itu dengan bilah arit yang sedari tadi ia genggam. Akhirnya ia terlepas dari seluruh ikatan buto penghuni gua. Dibantu oleh beberapa orang pengunjung, perlahan perempuan itu bangun dalam keadaan muka yang dan mata yang memerah. Kepedihan itu harus ia tanggung sebagai syarat pelepasan diri dari buto itu.
Diri performer dan pengunjung telah bersih. Mereka juga telah terlepas dari cengkeraman buto pembangunan penunggu goa. Tak lagi menjadi manusia goa Plato yang menganggap bayang-bayang sebagai realitas utuh. Meninggalkan peradaban pembangunan yang penuh ilusi, menuju realitas yang sesungguhnya. Kembali menyatu dengan alam.
“Blek-Blek-Thing… Blek-Blek-Thing,” para pengunjung diajak menuju bibir pantai. Di tengah hamparan pantai, berdiri sebuah kusen dan pintu yang terbuat dari rangkaian sapu lidi. Ia adalah gerbang menuju alam roh. Untuk mencari keberadaan alam, pintu itu harus terbakar agar orang dapat masuk ke dunia sebelah dan melakukan pencarian di sana. Kobe Ko, seniman asal Hongkong, berdiri di sana untuk menyalakan apinya.
Ko pun mengambil obor. Ia memperhatikan tiap sisi pintu, mencoba membakarnya. Tapi begitu sulit melawan angin kencang yang seketika akan memadamkan api itu saat sapu lidi mulai dirambat api. Seolah tak peduli, perempuan itu terus saja membakar pintu. Dan perlahan pintu itu mulai musnah dengan kobaran api dan semangat yang tiada henti.
Pada akhirnya, hembusan nafas peradaban asing itu tetap tak sanggup menghalangi api semangat yang melahap pintu itu sedikit demi sedikit, hingga menjadi abu. Ini semua demi pencarian alam yang dengan semena-mena digondol oleh buto peradaban.
Langit telah beralih rupa menjadi jingga ketika pintu roh telah terbuka. Segala ritual telah dijalankan sebagai syarat awal pencarian alam. Rintihan suara seruling terdengar dari kejauhan. Para penonton diajak kembali berkumpul ke panggung utama.
Seluruh performer berkumpul di atas altar. Mereka lelah, tapi mereka harus tetap mencari, tapi ke mana? Harus ke mana lagi mereka mencari? Kenapa cengkraman buto pembangunan begitu kuat? Bahkan, buto itu mampu melahap banyak pengunjung, menyisakan sedikit sekali dari mereka untuk tetap bertahan dalam proses pencarian alam ini. Mereka hanya bisa berputar-putar. Tabuhan musik menegang. Seluruh performer mulai menabuh tembikar dengan asal. Mereka tak tahu arah. Alam masih saja hilang.


