Lokasi

Lapangan Desa Logandeng
Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen
Gunungkidul

Tanggal

11 - 18 Oktober 2025

Kabar

Mencatat Riwayat Empat Penghayat dan Satu Kampung Adat di Gunungkidul

Jumat, 17 Oktober 2025 Penulis: Aisya Puja Ray Editor: Ashari Ariya

Gunungkidul—nama ini sendiri membawa bayangan lanskap yang berlapis: perbukitan bergelombang, karst yang menjulang, telaga yang tersembunyi di balik pepohonan, dan suara angin yang memantul dari batu ke batu. Di antara lanskap yang kasar sekaligus lembut ini, masyarakatnya hidup dalam ragam keyakinan yang saling beririsan—dan dalam banyak kasus, saling menghormati. Mayoritas memang memeluk Islam, begitu catatan pemerintah menyebutnya. Namun di sela-sela keseharian—di sudut rumah, di pinggir jalan setapak, di bawah naungan pohon beringin tua—hidup kelompok masyarakat yang menjalankan kepercayaan lain, ajaran yang menegaskan hubungan manusia dengan alam dan leluhur, warisan yang muncul jauh sebelum agama-agama besar menjejakkan kaki di Nusantara.

Atas dasar itulah, pengetahuan warga terkait adat istiadat dalam seluruh lekuk kehidupan menjadi sesuatu yang tak sekadar layak dicatat, melainkan penting untuk dirawat—dilihat melalui tatapan para penghayat kepercayaan. Setiap istilah, baik yang masih hidup di lidah sehari-hari, yang berkembang perlahan, maupun yang kini terdengar asing, perlu ditangkap, dihimpun, dan diarsipkan. Melalui pendataan yang teliti, pencatatan yang saksama, dan penyusunan yang cermat, keragaman tata bahasa dan tata cara hidup warga penghayat kepercayaan tersusun menjadi glosarium, atau bauwarna—sebuah peta kata yang tidak hanya menamai, tetapi juga menyimpan konteks, makna, dan sejarah yang melatari setiap ungkapan. Dari sana, yang ditemukan bukan sekadar daftar istilah, tetapi jejak kehidupan yang terangkai dalam tutur dan praktik sehari-hari.

Telusur Tutur: Jejak Pengetahuan yang Hidup

Program Jelajah Budaya FKY 2025 di Gunungkidul, bertajuk Telusur Tutur, menapaki jalan ini. Bersama karang taruna setempat sebagai duta pencari data, penulis-observer, dan fasilitator, program ini merangkul empat komunitas penghayat kepercayaan dan satu masyarakat adat. Kelima komunitas itu menjadi gerbang masuk untuk memahami pengetahuan kebudayaan warga Gunungkidul—di mana setiap latar kapita, tokoh, dan ruang geografis menempel pada setiap data yang dihimpun. Karang taruna ditempatkan sedekat mungkin dengan kampung halaman masing-masing, agar generasi muda dapat mengenal lingkungannya lebih akrab, lebih dekat, seolah meresapi denyut nadi tanah sendiri.

Riset glosarium atau bauwarna kebudayaan warga penghayat kepercayaan dan masyarakat adat menjadi usaha kolektif: sinergi antara fasilitator metode, fasilitator lokal, karang taruna, dan warga penghayat kepercayaan dan masyarakat adat. Fasilitator metode dan lokal menentukan lima karang taruna perwakilan untuk menelusuri tutur-tutur pengetahuan warga, menyingkap khazanah empat komunitas penghayat kepercayaan dan satu masyarakat adat di Gunungkidul. Semacam residensi di kampung halaman sendiri, perjalanan ini menyisakan hasil tulisan yang akan menjadi glosarium—sebuah peta bahasa dan budaya yang merangkum hidup, ritual, dan kepercayaan warga penghayat kepercayaan Gunungkidul.

Fasilitator lokal program ini, Ammarsila Mahardika Hutama, bekerja sama dengan Fathur Ramadhan selaku fasilitator metode, menuntun karang taruna yang menjadi periset: Alif Budiman (Kapanewon Playen), Dewi Kencana (Semanu), Dian Anjar Nugroho (Paliyan), Faizal (Patuk), dan Rohmad Gilang Rosady (Nglipar). Bersama-sama mereka menelusuri kata, makna, dan jejak hidup yang tertinggal dalam tutur warga, menafsirkan glosarium bukan sekadar sebagai kamus, tetapi sebagai jiwa kebudayaan yang berdenyut di setiap kampung, di setiap batu, dan di setiap angin yang melewati lanskap Gunungkidul.

Pengarsipan pengetahuan kebudayaan warga—khususnya tata cara dan hal-hal seputar adat tradisi—melalui pintu komunitas penghayat kepercayaan di Gunungkidul menghasilkan kumpulan istilah-istilah khas sesuai karakteristik masing-masing komunitas dan lokusnya. Semua istilah itu didata, dihimpun, dan disusun menjadi glosarium. Upaya ini memberi manfaat bagi generasi muda dan masyarakat penghayat kepercayaan yang terhimpun dalam Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), juga bagi masyarakat adat, karena selama ini pengetahuan adat tradisi dan hal-hal di sekitarnya belum banyak terdokumentasi sebagai pengetahuan bersama.

Pluralitas yang Bernapas

Berdasarkan data resmi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul, tercatat empat penghayat kepercayaan di Gunungkidul. Namun, perjalanan kami melalui program Telusur Tutur menemukan lebih dari itu. Di sini yang ditelusuri adalah pengetahuan kebudayaan warga dari tiga penghayat kepercayaan yang sudah terhimpun dalam MLKI: yakni Umat Pran-Soeh, Sumarah, Palang Putih Nusantara; satu penghayat yang sedang mengupayakan legalitas secara hukum, yakni Jawa Kasampurnan; dan satu masyarakat adat yaitu Kampung Pitu.

Pluralitas di sini bukan sekadar angka atau catatan administratif; pluralitas adalah napas, cara hidup, dan tata relasi yang terbentuk jauh sebelum kemerdekaan. Ia ada dalam setiap rumah, jalan setapak, sumur, dan telaga, dalam bisikan angin yang melewati pepohonan dan batu karst.

Sejak awal penelusuran, terasa bahwa hidup berdampingan dengan Masyarakat penghayat kepercayaan bukan hal baru bagi masyarakat Gunungkidul. Para pemuka penghayat dan ketua paguyuban menegaskan bahwa rukun sudah menjadi bagian sejarah mereka. Salah seorang ketua paguyuban menuturkan dengan suara berat namun lembut, “Sejak dulu, kami hidup rukun.” Penghayat memiliki keyakinan sendiri, ajaran sendiri, dan hak untuk menjalankannya. Pandangan negatif dari luar, seperti dicap “sesat”, tidak mengurangi ketenangan mereka menjalani hari. Ada keteguhan yang tenang dalam langkah mereka, seolah menegaskan bahwa kepercayaan bukan tentang pengakuan orang lain, tetapi tentang menjaga hubungan dengan alam dan leluhur.

Kami mencatat ratusan kosakata lokal, istilah adat, ritual, peralatan ritual, hingga istilah pertanian dan peternakan. Semua itu tersusun berkat kesediaan para penghayat yang ditemui, seperti Yohanes Supardi dan istrinya dari Pran-Soeh; Yatno Rejo, Sugito, dan Heru Purwanto dari Kampung Pitu; Suroso dari Palang Putih; Sis Karsi dan istrinya dari Sumarah; Gun Haryono, Didik, dan Guntur Susilo dari Jawa Kasampurnan. Tanpa mereka, informasi hanyalah udara; dengan mereka, informasi menjadi narasi hidup—arsip yang bernapas.

Catatan dari Lapangan

Pran-Soeh: Menapaki Ketenangan Batin

Perjalanan dimulai dari zona tengah Gunungkidul, di Tegalmulyo, Kepek, Wonosari—di rumah asri pinggir jalan Tentara Pelajar—tempat Paguyuban Umat Pran-Soeh menapakkan kaki. Ajaran Pran-Soeh lahir di Yogyakarta dan berkembang di Gunungkidul atas inisiatif Yohanes Supardi. Secara nasional tercatat sejak 1981, dan di Gunungkidul akta notarisnya tercatat pada 2007. Identitas visual mereka berupa bendera persegi putih dengan simbol huruf “A” bolak-balik yang dikelilingi lingkaran sinar kuning. 

Jumlah pengikut cukup banyak, sebagian besar berusia di atas empat puluh tahun. Mereka rutin berkumpul, sembahyang bersama, dan menjaga ajaran agar tetap hidup—menegaskan hubungan manusia dengan Tuhan melalui utusan-Nya yang lahir di Indonesia, Pran-Soeh Sastrosoewignjo.

Tata cara ibadah dan moral tertulis dalam Kitab Agung Pandom-Soetji, yang membimbing umat menapaki sisi batin melalui Ilmu Kejawen yang disebut Kasopan Pran-Soeh. Keanggotaan sederhana: cukup niat dan kepercayaan. Yohanes Supardi menekankan tujuan utama: ketenangan batin. Namun, bagi generasi muda, laku prihatin seperti puasa mutih—menahan lapar sekaligus mengekang hawa nafsu—kadang sulit dijalani. Istri Yohanes menjelaskan, kehidupan utusan ini dipenuhi kerja keras: menjadi buruh, membantu bertani, dan hidup dalam kesederhanaan.

Selain puasa mutih, umat mempelajari Ilmu Umat Tiga Perangkat, diterima melalui alam sasmita maya. Simbol dan kiasan menjadi penghubung antara umat dan utusan Tuhan, dipraktikkan melalui semedi, biasanya menjelang tidur, menunggu wangsit atau petunjuk dari Rama Pran-Soeh. Dalam kesunyian malam, meditasi ini menuntun mereka menapaki ruang batin yang hanya dimengerti oleh yang menekuninya.

Kampung Pitu: Tujuh Kepala Keluarga di Atas Batu

Perjalanan menanjak ke Baturagung, Nglanggeran, membawa kami ke Kampung Pitu, berada di 750 mdpl, dihuni tujuh kepala keluarga—jumlah yang diyakini tepat oleh tradisi lokal; lebih dari diyakini akan membawa malapetaka. Saat ini, 25 orang tinggal di Kampung Pitu, lainnya merantau. Mereka adalah generasi kelima dari garis keturunan Eyang Iro Kromo dan Eyang Tirto, orang yang pertama menghuni Kampung Pitu. Mereka Bertani atau beternak; agamanya mayoritas Islam, lebih tepatnya Islam Kejawen. Kampung Pitu memiliki identitas adat, melekat pada ritual seperti Nyadran, Tingalan, Tayub, Rasulan, Ngabekten, Mong-mong Pedet, hingga Mong-mong Motor. Tentu saja, setiap upacara adat memiliki ubarampe dan sajen tersendiri.

Yatno Rejo, juru kunci sekaligus sesepuh Kampung Pitu pasca meninggalnya Rejo Dimulyo, menegaskan bahwa ritual adalah wujud syukur kepada Tuhan sekaligus sarana berbagi kebahagiaan. Misalnya, ritual mong-mong motor, tradisi slametan ketika salah satu warga baru membeli kendaraan.

Sebelum dikenal sebagai Kampung Pitu, kampung bernama Dusun Telaga, karena ada sebuah telaga di tengah perkampungan yang menjadi sumber hidup dan tempat leluhur menetap. Dalam sejarahnya, sejak dulu jumlah kepala keluarga tidak pernah melebihi tujuh.

Keterisolasian geografis membuat kampung relatif tertutup dari pendidikan dan layanan publik. Pendidikan tinggi jarang ditempuh, pengobatan mengandalkan dukun dan tumbuhan lokal. Listrik dan jalan baru ada setelah kampung menjadi desa wisata pada 2015. Namun begitu, ritual adat tetap berjalan: penghormatan pada makhluk hidup, penyakralan telaga atau sumber air, dan keyakinan terhadap kisah-kisah mitos yang ada di sana. Bagi mereka, itu adalah penghormatan, bukan penyembahan.

Palang Putih Nusantara: Keseimbangan dan Kawruh Urip Sejati

Perjalanan berikutnya menembus karst ke selatan, Dusun Ploso, Kalurahan Tileng, Girisubo, bertemu Bapak Suroso, ketua Paguyuban Palang Putih Nusantara. Ajarannya adalah kejawen kawruh urip sejati yang bersumber dari Gusti Bendara Pangeran Harya Suryadiningrat, putra Sultan HB VII. Empat pokok ajaran menekankan keseimbangan manusia dengan alam, penghormatan terhadap sesama, ketaatan bernegara, dan pemahaman asal-muasal kehidupan.

Palang Putih Nusantara memiliki tata ibadah sendiri, Sembah Hyang, dilakukan di senthong atau sanggar pamelangan. Semedi dilakukan dengan larangan tertentu: tidak memfitnah (dawen) dan tidak marah tak berdasar (panas ten). 

Laku utama meliputi catur sembah, sembah sungkem, sembah bekti, dan sembah sujud, sementara pernikahan pun sarat simbol: busana pengantin Komojoyo Dewi Ratih, daun sirih, gantal, menyatukan rasa pasangan.

Sumarah: Laku Batin dan Kerendahan Hati

Kami berlanjut ke Kapanewon Tepus, menemui Sis karsi selaku imam Paguyuban Sumarah. Fokus ajaran ini adalah kebatinan, budi luhur, dan harmoni dengan sesama makhluk hidup dan lingkungan.

Didirikan Raden Ngabehi Soekinohartono di Wirobrajan pada 1935, ajaran ini berangkat dari Sujud Sumarah—sebuah wahyu berupa cahaya langit yang diterima pendirinya, sebagaimana tertulis dalam kitab ajaran Sumarah. 

Ajaran menekankan iman, kebajikan, kerendahan hati, dan laku prihatin. Sis Karsi menuturkan pengalaman hidup sederhana: berpindah-pindah, bertani, dan merawat hewan ternak secara tradisional.

Jawa Kasampurnan: Menyelami Jiwa dan Raga

Penelusuran terakhir membawa kami ke Ponjong, Padepokan Jawa Kasampurnan, diketuai Gun Haryono. Paguyuban ini masih menunggu pengesahan resmi, meski perizinan sedang berlangsung. Didirikan Eyang Mujono pada 8 April 2023, tak lama sebelum beliau wafat pada 2025, ajarannya berbasis penelitian ilmiah dan metode sains. 

Jawa Kasampurnan meyakini bahwa jiwa dan raga adalah dua entitas yang perlu diselaraskan. Praktik utamanya meliputi perenungan, tangise ati, pernapasan pingala, dan meditasi untuk menyelaraskan jiwa dan raga, mencapai kesadaran hidup dan kemerdekaan sejati. 

Gun Haryono menekankan: ajaran ini bukan teori semata, tapi pengalaman hidup dan penelitian Eyang Mujono sendiri semasa hidup.

Menutup Perjalanan: Menyimpul Napas Gunungkidul

Dari semua perjalanan itu, tampak bahwa lanskap Gunungkidul membentuk pluralitas bukan sebagai angka, melainkan napas. Pran-Soeh di Wonosari, Kampung Pitu di Nglanggeran, Palang Putih Nusantara di Girisubo, Sumarah di Tepus, dan Jawa Kasampurnan di Ponjong—semuanya menjadi bagian dari arsip hidup yang menegaskan: manusia dan budaya tidak dapat dipisahkan.

Kisah-kisah yang kami dengar bukan sekadar dokumentasi. Ia adalah napas, detak, bisikan di tengah hening malam; aroma dupa yang menempel di rumah-rumah tua; gemericik air dari telaga; tawa anak-anak yang berlari di antara batu karst, dan perasaan yang tak bisa diukur oleh catatan resmi manapun.

Pluralitas di Gunungkidul adalah cara hidup—kesadaran yang membentuk manusia dan lingkungannya. Para penghayat mengingatkan: hidup bersama bukan hanya toleransi, tetapi penghormatan dan pemahaman terhadap keberadaan yang lain.

Ketika kami meninggalkan Gunungkidul—dari perbukitan Ledoksari hingga karst Girisubo, dari Kampung Pitu hingga Ponjong—terasa jelas bahwa pluralitas bukanlah ancaman, melainkan kekayaan. Setiap ritual, setiap doa, setiap langkah batin yang ditempuh para penghayat adalah bagian dari arsip budaya yang tak ternilai. Mereka mengajarkan bahwa keberagaman bukan hanya jumlah dan nama, tetapi pengalaman, sejarah, dan kehidupan itu sendiri.

Epilog: Gunungkidul, Napas yang Tak Pernah Padam

Gunungkidul, dengan manusia dan kepercayaannya, menjadi panggung hidup yang tak henti mengulang cerita tentang hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan leluhur. Kisah ini kami tulis bukan sekadar catatan penelitian, tetapi kesaksian: bahwa pluralitas itu indah, berharga, dan sarat makna—warisan bagi semua yang hadir dan yang akan datang.

Dalam setiap telaga yang berkilau, setiap batu karst yang tegak, setiap pohon beringin yang meneduhkan, tersimpan cerita tentang toleransi, ketekunan, dan ketenangan batin yang menembus generasi.

Gunungkidul bukan hanya tempat; ia adalah napas, dan masyarakatnya adalah denyut yang menghidupkan napas itu. Dalam percakapan dengan para penghayat, kami belajar bahwa hidup bukan soal mendominasi atau menyeragamkan, melainkan tentang memahami, menjaga, dan mengalir bersama. Kehidupan sehari-hari mereka—bertani, memelihara ternak, menjaga ritual, dan menapaki laku prihatin—menjadi pelajaran hidup bahwa keberagaman adalah proses, bukan hasil; pengalaman yang dijalani, dihargai, dan diwariskan dari waktu ke waktu.

Dari keragaman istilah yang kami catat, Gunungkidul tampil sebagai dirinya sendiri: bukan sekadar angka statistik tentang keberadaan penghayat kepercayaan dan masyarakat adat, melainkan ruang hidup yang utuh, di mana alam, manusia, dan leluhur berdampingan, beririsan, dan berumur panjang. Setiap langkah, setiap ritual, setiap napas di tanah ini adalah arsip budaya yang berdaya. Setiap doa, setiap upacara, setiap tradisi yang terus terjaga menjadi bukti bahwa pluralitas bukan ancaman, melainkan kekayaan.

Gunungkidul, 11 Oktober 2025