Lokasi

Lapangan Desa Logandeng
Plembon Kidul, Kalurahan Logandeng, Kapanewon Playen
Gunungkidul

Tanggal

11 - 18 Oktober 2025

Kabar

Mengenal Ilmu Jowo dalam Telusur Tutur FKY25, Jalan Sunyi Fitri bersama Paguyuban Jowo Kasampurnan

Selasa, 14 Oktober 2025 Penulis: Putri A.F. Editor: Ashari Ariya
Pertemuan dengan Paguyuban Jowo Kasampurnan di Sekretariat Paguyuban Jowo Kasampurnan, Ponjong, Gunungkidul (Foto oleh FKY 2025)

Saya berkesempatan membersamai tim program Jelajah Budaya: Telusur Tutur dari dalam rangkaian FKY 2025. Sejalan dengan tema besar Adoh Ratu, Cedak Watu,  program ini bertujuan untuk menelusuri sekaligus mengarsipkan istilah-istilah pengetahuan kebudayaan dari komunitas penghayat kepercayaan di Gunungkidul. Hasil penelusuran ini kemudian dirangkai menjadi bauwarna (glosarium) yang merekam karakter dan langgam khas dari masing-masing komunitas.

Program ini diselenggarakan selama sepuluh hari, mulai 25 September hingga 4 Oktober 2025 dengan melibatkan di empat komunitas penghayat kepercayaan dan satu kampung adat. Pelaksanaannya bekerjasama dengan karang taruna, fasilitator (penulis), dan komunitas penghayat. Satu komunitas yang saya kunjungi adalah Paguyuban Jowo Kasampurnan, yang tergabung dalam Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI), dan tercatat di Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Gunungkidul.

Dari Ilmu Jowo Sejati ke Jowo Kasampurnan

Perwakilan dari Paguyuban Jowo Kasampurnan menuturkan kisah paguyuban (Foto oleh FKY 2025

Paguyuban Jowo Kasampurnan berpusat di Dusun Susukan, Kapanewon Ponjong, Gunungkidul. Ia bukan sekadar tempat berkumpul, bukan pula tempat beribadah dalam artian formal, melainkan ruang belajar olah jiwa. Tempat bagi siapapun yang ingin memahami laku, kesadaran, dan keseimbangan diri, alam, dan Sang Pencipta.

Para anggotanya datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari petani, dosen, karyawan, hingga politisi. Dari lintas iman, etnis, dan kebangsaan. Mereka belajar ajaran yang disebut Ilmu Jowo Kasampurnan, sebuah piwulang metafisika yang berakar dari ajaran Mbah Mujono atau Maharsi Pamungkas, yang dianggap sebagai sesepuh dan pendiri Paguyuban. Kesadaran bahwa paguyuban ini bergerak di bidang pendidikan olah jiwa membuat pengajuan legalitasnya diarahkan ke Dinas Pendidikan, bukan di Dinas Kebudayaan. 

Salah satu anggota yang saya temui ketika berkunjung adalah Fitri, seorang akademisi yang sejak kecil telah mengenal ajaran Ilmu Jowo. Ia dibesarkan di Surabaya, tetapi sering berkunjung ke rumah keluarganya di Yogyakarta. Di sinilah mulanya ia berjumpa dengan ajaran Ilmu Jowo langsung dari Mbah Mujono.

Sebelum mengenal Ilmu Jowo Kasampurnan, Fitri ia lebih dulu mempelajari Ilmu Jowo Sejati ajaran yang digunakan untuk kehidupan sehari-hari, misalnya kebutuhan akan pendidikan.

“Simbah (Mbah Jono) lihat saya doyan belajar ilmu, jadi mulai diajari perenungan dan olah cipta,” kenang Fitri yang waktu itu masih duduk di kelas dua SD, sementara orang tuanya sudah lebih dulu bergabung dalam paguyuban.

Ajaran yang ia dapatkan setelah mempelajari keberadaan partikel batin adalah olah cipta—melalui latihan perenungan atau pemusatan kesadaran untuk mewujudkan tujuan. Saat masih duduk di bangku sekolah dasar, Fitri dibekali dasar-dasar ilmu Jowo Sejati—ajaran yang digunakan untuk keperluan duniawi. Sebagai pelajar, ia menggunakan ilmu ini untuk mendukung prestasi akademiknya, beriringan dengan upaya belajar yang giat. 

Namun, perjalanan spiritualnya tidak berhenti di sana. Tahun 2018 menjadi titik penting dalam perjalanan spiritualnya. Saat itu, ia tinggal di Sleman dan mendapat petunjuk melalui mimpi tentang ilmu Jowo Kasampurnan, meski belum dapat menerjemahkan maknanya. Bersama rekan dan keluarganya, ia memutuskan untuk berkunjung ke Ngrombo, tempat Mbah Jono tinggal. Di sanalah Fitri mengetahui adanya ajaran yang lebih tinggi dari ilmu Jowo Sejati dan mulai belajar tentang ilmu Jowo Kasampurnan dari Mbah Jono dan para penerusnya.

“Kalau dulu ilmunya hanya untuk keperluan duniawi, sekarang untuk memahami tujuan hidup, dari ada menuju tiada,” ujarnya.

Setelah menyadari pentingnya kebutuhan wasana bagi manusia, Fitri berusaha tidak berhenti pada Ilmu Jowo Sejati. Ia pun mulai mempelajari ilmu Jowo Kasampurnan. Beruntungnya, pada tahun 2023, Paguyuban Jowo Kasampurnan dibentuk dan menjadi ruang untuk belajar bersama. 

Baginya, ajaran Jowo Kasampurnan bukan sekedar peninggalan nenek moyang, melainkan ilmu pengetahuan dan petunjuk menuju ke ketiadaan sejati, ilmu boleh diterapkan oleh siapa pun. Pengalaman itu menjadi awal pemahamannya bahwa ilmu Jowo bukan sekedar kepercayaan, melainkan metode untuk menuju ketiadaan dan dapat dibuktikan oleh siapa pun yang mengalaminya. Karena itu, ajaran ini dipercaya sebagai sains dan teknologi. 

Melalui kisah hidup Fitri, kita mengenal wajah spiritualitas yang tumbuh di Gunungkidul di tengah kehidupan serba cepat hari ini. 

Ajaran ini menuntun seseorang memahami eksistensinya secara utuh: bahwa hidup bukan hanya tentang mencapai sesuatu yang bersifat duniawi, tetapi juga melepaskannya, menyadari asal mula diri. Bagi para pengikut paguyuban, Jowo Kasampurnan bukan hanya pengetahuan atau teori, tetapi juga laku untuk melepaskan ego diri demi mendayagunakan partikel batin. 

Laku dan Lelaku

Dalam ajaran Jowo, praktik spiritual disebut lelaku—rangkaian olah jiwa yang berlandaskan kesadaran batin. Dalam kesehariannya, Fitri menjalani berbagai laku pengendalian diri, salah satunya puasa. Sejak kecil, ia membiasakan diri berpuasa weton—puasa penuh sehari semalam di hari kelahirannya.

“Prihatin, salah satunya puasa, itu tidak hanya sekedar menahan lapar dan haus, tetapi juga berupaya mengurangi ego diri,” kata Fitri. 

Di usia dewasa, ia menambah lelaku dengan puasa mutih— hanya makan nasi putih dan minum air putih selama sekitar satu bulan. Pernah suatu kali ia menjalani puasa itu dengan tujuan tertentu: mencari jodoh yang searah dalam lelaku spiritual.

“Saya niat mutih supaya bertemu jodoh yang bisa mendukung saya lahir batin, dan ternyata itu benar-benar terjadi,” ungkapnya.

Selain itu, Fitri juga rutin melakukan meditasi atau melakukan pemusatan pikiran, serta pernah melakukan ngebleng—tidak makan dan tidak minum selama tiga hari tiga malam berturut-turut. Ketika ngebleng, kegiatan duniawi ditinggalkan atau setidaknya dikurangi karena masih dalam taraf latihan. Semua laku tersebut dijalani dengan penuh kesadaran akan tujuannya dan telah dikonsultasikan dengan ketua paguyuban. 

Nasihat yang ia ingat: laku perih sepeerti mutih atau ngebleng harus mengenal batas dan kekuatan diri sendiri.

“Kalau sudah niat, kita akan kuat kok. Gak usah takut lapar, gak usah takut haus. Buktinya kuat,” ujarnya. 

Sebagai akademisi, Fitri menemukan cara untuk mengaitkan spiritualitas Jowo dengan kegiatan belajarnya. Ia percaya bahwa ilmu yang diajarkan di paguyuban membantunya untuk dapat berpikir jernih dan fokus.

“Saya belajar olah cipta serta melakukan prihatin dan renungan. Kalau sudah bisa benar-benar fokus, hasilnya selalu lebih baik. Artinya, tujuan tercapai,” katanya.

“Dari kecil Simbah (Mbah Jono) selalu bilang, orang Jowo juga bisa jadi yang tertinggi,” tambahnya.

Keyakinan itu terbukti. Tidak hanya menjadi peringkat satu di sekolah, Fitri juga menjadi lulusan terbaik di beberapa jenjang pendidikan, menerima berbagai beasiswa, dan bahkan meraih penghargaan tingkat internasional.

“Saya selalu berusaha menerapkan ilmu ini dalam kehidupan sehari-hari, termasuk saat berpikir dan bekerja,” jelasnya.

Menurutnya, ilmu Jowo tidak bertentangan dengan sains dan justru melengkapinya, karena dapat dipraktikkan dan dibuktikan.

Paguyuban yang inklusif

Bercengkrama dengan para perwakilan paguyuban di sela makan siang (Foto oleh FKY 2025)

Paguyuban Jowo Kasampurnan terbuka untuk siapapun, tanpa memandang agama, pekerjaan atau status sosial.

“Kami tidak peduli latar belakang sosial. Siapa pun boleh belajar ilmu Jowo ini,” kata Fitri.

Bagi anggota paguyuban, identitas spiritual seseorang tidak diukur dari kolom agama di KTP. Paguyuban tidak mewajibkan anggotanya mengganti kolom agama menjadi “Kepercayaan”. Fitri sendiri mengaku tetap menuliskan salah satu dari enam agama yang diakui negara. Namun dalam paguyuban formalitas agama bukan inti ajaran.

Sikap terbuka ini membuat Paguyuban Jowo Kasampurnan menjadi ruang dialog yang unik di tengah masyarakat majemuk.

“Arah kami ke olah jiwa tanpa membedakan latar belakang seseorang,” tegasnya.

Salah satu pengalaman spiritual paling berkesan bagi Fitri adalah ketika menjalani mutih dan melek di Gunung Butuhan— tempat yang jauh dari keramaian dan kerap dimanfaatkan oleh anggota paguyuban untuk lelaku. Di sana, ia berlatih meninggalkan kenyamanan untuk meresapi keheningan.

“Intinya tansah eling marang Gusti dan partikel batin lainnya yang ada di jagad cilik atau mikro,” ucapnya.

Fitri menyakini bahwa satu hal yang harus dilatih adalah resik pikir, resik ati—membersihkan pikiran dan hati. Ia berusaha fokus dalam perenungan dan mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, menjauh dari hal-hal yang bisa “mengotori pikiran dan hatinya”, seperti gosip, iri atau marah.

“Kalau pikiran dan hati kotor, susah fokus waktu renungan. Jadi kita belajar untuk menjaga keduanya tetap jernih,” ungkapnya.

Paguyuban menjadi ruang bersama untuk menimba ilmu, saling berbagi pengalaman, dan memperkuat laku. Setiap orang memiliki pengalaman yang berbeda, tetapi mereka bertemu untuk berlatih menghidupkan kesadaran batinnya.

“Kita saling sharing, biar berkembang bareng. Kalau ada yang mengalami kesulitan dalam laku, kita saling memberi masukan dan bertukar pengalaman,” ujar Fitri menutup percakapan kami.

Melalui penjalananya sebagai bagian dari Paguyuban Jowo Kasampurnan, Fitri belajar memahami hidup bukan sebagai serangkaian target, tetapi sebagai proses menuju wasana. Dengan demikian, ia tidak hanya fokus pada cipta, tetapi juga mulai belajar tentang asal-usul manusia dan teori ilmu Jowo Kasampurnan.

Di tengah modernitas yang serba cepat, jalan sunyi yang ia tempuh bersama Paguyuban Jowo Kasampurnan menjadi pengingat bahwa tujuan manusia hidup manusia bukan sekedar mencapai hal duniawi, melainkan untuk kembali menuju ketiadaan.

 

Gunungkidul, 3 Oktober 2025

Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2025